25.11.07

Rahasia Air



"Dan Kami ciptakan dari air segala sesuatu yang hidup"(Al Anbiya:30)

Bila kita renungkan berpuluh ayat Al-Quran yang berbicara tentang air, kita akan tersentak bahwa Allah SWT rupanya selalu menarik perhatian kita kepada air. Air tak sekedar benda mati, tapi juga menyimpan kekuatan, daya rekam, daya penyembuh, dan sifat ajaib lainnya.

Dr Masaru Emoto dari universitas Yokohama, Jepang, pada Maret 2005 lalu telah melakukan sebuah penelitian. Hasilnya? ternyata air bisa "mendengar" kata-kata, bisa "membaca", tulisan, dan bisa "mengerti" pesan. Dala bukunya, The Hidden Message in Water, Masaru Emoto menguraikan bahwa air bersifat bisa merekam pesan seperti pita magnetik atau compact disk.

Suatu peristiwa ganjil aneh pernah terjadi pada masa Amru bin Ash RA ketika menjabat Gubernur Mesir. Sungai Nil yang menjadi urat nadi kehidupan penduduk Mesir mulai surut. Airnya tidak melimpah-limpah seperti biasa. Peristiwa ini amat mencemaskan penduduk.

Warga mengusulkan kepada gubernur agar melakukan ritual jahiliyah, yakni dengan mengorbankan anak gadis sebagai persembahan kepada dewa Sungai Nil, agar air kembali ke sedia kala. Namun Amru keberatan, karena adat ini khurafat dan syirik.

Gubernur meminta waktu dan mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Khattab. Ketika menerima surat balasan, betapa gembiranya Amru. Namun, betapa terkejutnya, karena surat itu tidak ditujukan padanya, melainkan untuk sungai Nil. Setelah membacanya Amru pun mencampakkan surat itu ke dalam sungai sebagaimana perintah Khalifah.

Dengan kekuasaan Allah, setelah surat itu jatuh ke dalam sungai Nil, dalam sekejap mata airnya mulai naik dan melimpah ruah. Kejadian ini disaksikan sendiri oleh penduduk Mesir. Semenjak hari itu, iman mereka mulai teguh dan tidak mengamalkan adat jahiliyyah.

Apa isi surat Khalifah Umar?

"Surat ini dikirim oleh Umar, Amirul Mu'minin, kepada sungai Nil. kalaulah air yang mengalir pada tubuhmu itu bukan dari kuasa Allah, maka kami tidak meemrlukan engkau! Tetapi kami percaya Allah itu Maha Kuasa da kepada-Nya lahkami bermohon supaya engkau mengalir seperti sediakala."

Sebuah keajaiban sekaligus demonstrasi ahwa sosok mukmin yang sejati, teguh imannya dan amat taqwa kepada Allah, dapat menggerakkan benda alam atas izin-Nya. Wallahu a'lam.

Hidayatullah, Nopember 2006

22.11.07

Syair Ibnu Al-Mubarok

Wahai 'abid Al Haramain
seandainya engkau memperhatikan kami
engkau pasti tahu bahwa selama ini
engkau hanya bermain-main dalam ibadah.
Kalau pipi-pipi kalian basah dengan air mata
maka leher-leher kami basah bersimbah darah.
Kalau kuda-kuda kalian letih dalam hal yang sia-sia,
maka kuda-kuda kami letih di medan laga.
Semerbak wanginya parfum, itu untuk kalian,
sedangkan wewangian kami, pasir dan debu-debu.
Telah datang Al Quran kepada kita menjelaskan,
para syuhada tidak akan pernah mati, dan itu pasti.

Syair di atas ditulis oleh Abdullah ibnu Al-Mubarak dalam suratnya, yang ditujukan kepada Fudlail bin 'Iyadl. Bukan bertujuan untuk mencela atau pun menghina, tapi semata-mata mengingatkan untuk kepentingan FASTABIQUL KHOIROOT. Dan memang Fudlail sendiri juga mengakui apa yang telah ditulis Ibnu Mubarak adalah bukanlah salah adanya. Terbukti Fudlail langsung menitikkan air mata usai membacanya seraya berkata,"Engkau benar Ibnu Al-Mubarak, demi Allah, engkau benar."

Dan apabila dikembalikan ke diri kita, apa yang terlintas dipikiran antum wahai ikhwah usai membaca syair di atas?

By : Labib Fayumi

12.11.07

Fitnah Agama, Hati-Hatilah Kawan....

Mengikuti berita media massa akhir-akhir ini membuat saya bosan. Betapa tidak, sejak tenarnya kasus aliran sesat di negeri ini hampir tiap berita yang saya tonton pasti menyuguhkan berita itu-itu saja (di samping gunung meletus tentunya). Maksud hati ingin tak memikirkan tapi karena sering ketemu akhirnya saya dipaksa untuk memikirkannya juga, menyedihkan. Mungkin apa yang saya tulis ini merupakan urutan yang ke sekian dari banyak tulisan yang telah ditulis untuk mengomentari fenomena penyelewangan religi tersebut. Tapi, bukan untuk menyaingi tulisan yang ada, saya menulis hanya untuk meluapkan pikiran yang terpaksa muncul karena kebosanan yang saya bilang di atas.

Ketika merenung tentang maraknya "aliran sesat" yang muncul akhir-akhir ini, satu pernyataan yang muncul dalam benak saya adalah "ternyata orang Indonesia itu kreatif juga ya". Saking kreatifnya, tak hanya pakaian dan gaya yang harus mengikuti mode, tapi sekup religi dan kepercayaan pun diutik-utik sedemikian rupa hingga lahir aliran baru made in Indonesian.

Parahnya, dari masyarakat sendiri pun banyak juga yang respect akan aliran model baru ini. Entah karena alasan kebosanan dengan apa yang telah mereka yakini sebelumnya, iman yang nggak kuat, atau lainnya yang jelas animo mereka akannya menjadikan "rating penjualan" aliran-aliran ini melonjak tajam. Tak hanya dari kalangan abangan, kaum akademis pun terjerat sihirnya.

Kontan, pihak yang merasa diduplikasi dan direkayasa kemurniaanya berontak. Tuduhan membawa lisensi palsu ketuhanan pun dilontarkan. Geger juga akhirnya. Panggung politik pun ikut-ikutan memberikan justicenya, setelah alim ulama menyerukan terompet "perang"nya.

Tak ketinggalan, ratusan bahkan ribuan pemikiran dari orang-orang besar, mulai dari yang di anggap nyeleneh sampai yang didewakan turut serta menghiasi wajah media masa. Dan saya sendiri, di sini sebagai seorang yang bodoh hanya bisa menonton dan tertawa mengamati polah tingkah mereka.

Bukan tertawa karena senang, sedih nian. Ternyata zaman akhir semakin menunjukkan wujud aslinya. Saat kemunculan Al-Masih Dajjal kian dekat saja rasanya. Fitnah saat ini dapat dikatakan masih intro awal dari kemunculan Sang Pembawa Fitnah Besar. Bagaimana jika rajanya telah muncul? Entahlah, terpikirkan seandainya saya sendiri berhadapan langsung kepada para pembawa risalah palsu ini, akankah saya juga takluk? Subhanallah, Tetapkanlah hatiku untuk selalu berada di jalan-Mu ya Rabb.

Teringat sebuah petuah dari romo yai saya ketika beliau memberikan nasehat,"Le, zaman akhir niki menawa wonten wong ampuhe koyo opo tapi boten nglakoni syari'at. Ojo nggumun, opo maneh melu-melu, luwih apik didohi wae, golek slamete. Sing penting tetep gondelan kaliyan syari'ate kanjeng nabi, insya allah sampeyan slamet". (Le, jika pada zaman akhir ini engkau menjumpai seorang yang memiliki keajaiban atau kesaktian apa pun bentuknya tapi ia tak menjalankan syari'at, nggak usah heran, apalagi mengikutinya lebih baik kau menjauhinya, carilah selamat. Yang terpenting selalulah berpegang teguh pada syari'at yang dibawa kanjeng nabi, insya allah kamu selamat).

Memang,bukan tak mungkin bila para pembawa aliran palsu ini tak membawa "istidroj" (kebalikan dari karomah) yang dapat membawa fitnah besar. Itulah yang ditakutkan, sebagaimana Musailamah Al Kadzab yang salah satu istidroj nya adalah mampu membuat gundul rambut anak yatim hanya dengan mengusapnya.

Satu dari sekian kabar yang saya dengar, Lia eden pun juga demikian rupanya. Siapa yang akan dibaptis lalu ia tak meyakininya maka tubuh orang tersebut akan merasakan panas yang amat sangat.

Begitu pula dengan Sai Baba (anak buah Dajjal yang lain, tapi kasus ini di India) yang konon mampu mengeluarkan tepung (salah satu makanan pokok penduduk India) dari tangannya, menyuburkan daerah yang kekeringan, serta membuat emas dari air liurnya. Tak ada ulama di sana yang mampu menghadapi fitnah besarnya, bahkan mereka lebih memilih untuk menghindar demi menyelamatkan aqidahnya.

Bukan tak mungkin, bila fitnah serupa akan melanda Indonesia. Apa yang kita hadapi sekarang bisa jadi akan ada kisah bersambungnya dengan level yang lebih tinggi tingkat fitnahnya. Maka berhati-hatilah ...

Terngiang sebuah petuah dari ibunda tercinta,"Saiki sing penting okehno lehmu dzikir yo lee, ilingo mring gusti Allah neng ndi wae awakmu ono." (Sekarang yang terpenting adalah perbanyaklah kamu berdzikir le, ingatlah selalu kepada Allah di mana pun engkau berada).

By : Labib Fayumi

5.11.07

Special Baby



By : Sofia Sinta W

My mom was pregnant! That's the most wonderful news I have ever heard. Yes, our family, especially me, had been waiting for this a long time. I was the only child in the family. And at the age of 17, I would finally have a sibling. That was terrific!

Thank God for the best present at my really sweet seventeen. Alhamdulillah.

I also thanked my mom, adn she replied with a smile.

"You are really want this baby, don't you?" she asked me.
"Of course I do, Mom ..."
"How about your friend? Ditto. He was so ashamed because his mother was pregnant again. You don't feel the same thing, do you?"
"Oh, I think Ditto was a fool." Yeah, in my opinion, Ditto was really stupid. He was ashamed and angry when he knew that his mother was pregnant last year. When his little brother was borne, his anger increased and he felt very jealous. How childish!

I told Mom that I would never feel like Ditto did. I promised her.
"Even if our attention to you would be devided?" mom asked.
"Yes, Mom. And I will also give my attention for him or her."
Days gone by and the time for the labor came. We were really happy to see the beautiful little girl. We named her Yasmin. We loved her so much. We thanked Allah for our dream that came true.

I had nice days with her. I always helped mom taking care of her. I helped putting on her napkins, played games and took walks together, and many others. My parents were so glad to see how much we shared and enjoyed many things together.
"Thank you for keeping your promise, honey." Mom said to me.
"Don't mention it, Mom. She's my sister. We both need each other."

There was no day I spent without Yasmin being a part of it. She was very pleasant and nice to me.

But horribly, the situation changed. Yasmin grew bigger and bigger. And the bigger she was, the more horrible the situation we had. She was so active that she couldn't stop moving and disturbing every one in our house, including me. She often broke my school assignments, jumbling my room, making worst "graffiti" on my stuff, and even hit me!

We couldn't count how many mom's kitchen tool or dad's office papers that were destroyed. There was no nice Yasmin anymore. She had become a monster!

I alwas felt anxious or afraid wen she approached me. But if I tried to avoid her, she would scream loudly. Then she would cry and hit me repeatedly. In that situation, mom would usually come at her defense and ask me to let her. When I felt that I couldn't stand it anymore, I tried to tell mom. She was so sad that her face became very pale.

"Don't talk like that about your sister, please ... Remember that you've promised me to take care of her and to love her forever." She reminded me.

"Mom ... come on ... I'll always try to keep my promises. But we have to do something to help her. Now! I heard that you and dad would send her to kindergarten next year. It means that she'll socialize. We have to help her learn to be nice so that people can accept her. Well, that's just my opinion ..." I replied carefully.

To my surprise, mom smiled and gave me a big hug.

"I almost forget that you're a little boy no more. You're a gentleman now. So, what do you think we can do?" mom asked.
"How about consulting a psychologist first? Ask dad if he has other suggestion."

So, we did it. I called my close friend who studied psychology-Mirza. He introduced us to his lecture, Mrs Ulfah. Mrs Ulfah was such a nice woman that my mom and dad "fell in love" with her at the first sight. SO did Yasmin. She called Mrs Ulfah "Dear Bude". Mrs Ulfah seemed to like that designation. She asked that Yasmin be taken to her place so that she could look-after Yasmin intensively.

We went there twice a week. It was a playground for children who have some emotional disruption like Yasmin. Yasmin enjoyed her "school-time". Mom and I took turns to accompany her there. Yasmin learned many things. Slowly she made progresses. We could see it. She was still hyperactive, but it wqas different-it was more directed.

One day, Mrs Ulfah told me a key to cope our problem."May be at the firs time your aim to send Yasmin here was to make her more well-directed and nicer. You wanted her to be a pleasant and normal little girl. Listen to me, I want to tell you that you should change your point of view about Yasmin," She said.

"Oh? What is it Mrs Ulfah? What should we do?"
"You have to stop that view-That Yasmin have to be nice girl who is pleasant to all of you. It's no fair for Yasmin."
"Why?"
"What you have to do is that you-your whole family-have to be pleasant for her and understand her. Yes, all of us want Yasmin to be refined and changed. But It was not because she hadi to be a nice girl for anybody else, but just for the sake of herself ... for her own needs! Do you understand what I mean?"

I was silent for a moment, trying to understand her opinion. Then I nodded. I could feel a beat of regret in my heart.

"Why didn't I realize it earlier?"
"You realize it now young man. I know that you are smart enough to do it," Mrs Ulfah gave me a wise-smile.
"Oh please don't make me feel ashamed ...," I tried to make a joke. She laughed but I couldn't. I still had that regret.
"Come on, young man ... don't exxaggerate it. Here, look at your little sister ..."

I saw Yasmin running with her friends accompanied by an instructor. The instructor tried to lead the children socializing.

"Look at her eyes! See how a special baby she is," She said again.

=============

At night, when I took Yasmin to her room, she told me some stories. She talked fluently as if she couldn't shut her mouth. I laughed at seeing how she did it enthusistically. What a high-spirited little girl. Then I looked at her eyes. Mrs Ulfah absolutely right. I could see milions stars there. Beautiful, they were like miracles that got me into tears. Yasmin ... how much I love you!

Yasmin stopped her stories and looked into my eyes. To my surprise, she wiped my tears and said," A man does not cry ..."

It made me dropped more tears.

I gave her a hug and a good night kiss. She smiled and hid her body under the blanket. When I was about to leave the room, she peeped from her blanket.

Yasmin, you're my very special baby, always ...


Adapted from : Annida 09/XII/23 February 2003

6.10.07

Ketika Abu Bakar Bermimpi

Sebuah cerita yang indah :

Diriwayatkan dari Abu Bakar Shiddiq R.A.Pada suatu malam, dalam tidurnya, beliau melihat mimpi yang sangat langka. Dan di tengah tidurnya tersebut, Abu Bakar menangis keras-keras hingga orang yang berada di luar rumahnya mendengar tangisannya. Dan tak di sengaja, lewatlah sahabat Umar bin Khattab R.A di depan rumah beliau. Demi didengarnya suara tangisan, akhirnya Umar mengetuk pintu rumah Abu Bakar. Abu Bakar pun terbangun dan membuka pintu rumahnya. Tapi, linangan air mata masih mengalir dari matanya yang sembab. Melihat beliau menangis, Umar pun bertanya,"Kenapa engkau menangis?"."Kumpulkan seluruh sahabat, supaya aku bisa memberi khabar tentang apa yang aku lihat dalam mimpiku," perintah Abu Bakar.

Setelah para sahabat berkumpul, akhirnya Abu Bakar pun bercerita :

"Sesungguhnya aku melihat bahwa hari kiamat telah datang. Dan aku melihat segolongan manusia berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya, wajah mereka juga bercahaya bagaikan bintang. Aku pun bertanya kepada malaikat yang berada di sana,"Siapa mereka?"."Mereka adalah para nabi yang sedang menunggu Muhammad, karena pada Muhammad lah kendalinya syafa'at berada". Dan aku pun bertanya,"Dan di mana Muhammad? Bawa aku pada beliau, aku adalah pelayan sekaligus sahabat beliau, Abu Bakar". Maka malaikat pun membawaku pada Rasulullah. Dan apa yang aku lihat? Aku melihat Rasulullah berada di tiang 'Arsy. Dua tangannya terbentang bersama sorbannya, beliau sedang berusaha menghalangi pintu neraka dengan kedua tangannya. Dan aku mendengar beliau memohon,"Ilaahii ummatii, ilaahii ummatii, ilaahii ummatii. Di antara mereka ada para ulama, orang-orang sholeh, orang-orang yang haji dan umroh, orang-orang yang berperang dan para mujahidin ...". Dan tiba-tiba terdengar suara,"Hai Muhammad, engkau hanya ingat pada thoifah yang tho'at, tapi tidak ingat pada thoifah yang lain. Ingatlah pada orang-orang yang dzolim, peminum khamr, wanita yang berzina, dan orang-orang yang memakan riba (mereka seharusnya di siksa, mengapa engkau tetap menghalangi pintu neraka?)". Dan aku mendengar Rasulullah menjawab,"Yaaa Rabb, memang demikianlah mereka adanya, tetapi tak satu pun dari mereka yang menyekutukan-Mu, mereka tidak menyembah berhala, tidak mengatakan Engkau beranak, dan mereka tidak goyah dalam tauhidnya. Maka, wahai Tuhanku terimalah syafa'atku untuk mereka". Maka aku berkata kepada Rasulullah:"Irfiq binafsika yaa Muhammad". Kemudian Rasulullah berkata kepadaku:"Hai Abu Bakar, sungguh aku telah memohon kepada Rabbku untuk memberikan syafa'at kepada umatku, seluruh umatku atau sebagiannya". Namun belum sempat aku menjawab Rasulullah, engkau telah mengetuk pintu, membangunkanku dari tidurku yaa Ibnul Khattab."

Setelah Abu Bakar bercerita demikian, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu "... (aku telah memintakan syafaat untuk) seluruh umat sebanyak tiga kali wahai Abu Bakar". Serentak Abu Bakar dan Umar bin Khattab berucap:"Alhamdulillaah".

Hikaayatud Dzoriifah shohifah 39

By : Labib Fayumi

20.9.07

Ramadlan, Wahana Menebar Syiar



Ramadlan tiba, segenap umat muslim bersuka cita. Semuanya berlomba, mengumpulkan butir mutiara pahala di bulan mulia. Musholla dan masjid-masjid penuh sesak, tak mampu menampung jumlah jama'ah yang membludak. Dengung suara tilawatil quran, dengan gagahnya berkumandang. Tak ketinggalan, beribu zakat dan shodaqoh berlomba dikucurkan. Indah .. indah nian. Nuansa islam begitu hidup karenanya.

Maklum memang, bila umat mukmin menyambutnya sedemikian rupa. Ramadlan, ibaratnya merupakan tempat persinggahan dan peristirahatan. Tempat menghela nafas dan melepas lelah dari jenak-jenak hidup yang membosankan. Setelah sebelas bulan lamanya kita "ngalor-ngidul" berurusan dengan dunia, hanya memperhatikan jasadiyah kita, kini saatnya kita harus kembali memaksimalkan diri untuk lebih memanjakan ruhiyah kita. Menyucikan hati serta membersihkan diri dari noda-noda dosa yang telah kita buat sebelas bulan lamanya. Sekaligus menjadi trigger untuk mengawali kembali liku-liku hidup setelahnya.

Bagi penulis sendiri, kehadiran Ramadlan tahun ini telah mengingatkan akan indahnya Ramadlan tahun-tahun sebelumnya. Tentunya dengan harapan semoga kenangan indah itu terulang lagi untuk Ramadlan tahun ini, atau lebih malah.

Dan sebagian dari kenangan tersebut adalah hidupnya nuansa keislaman di bulan suci ini. Lihatlah, bagaimana ketika muslim muslimat dengan semangatnya berduyun-duyun pergi ke masjid, yang muslimah anggun dalam putihnya, yang laki-laki pun anggun bersama koko dan kopyah yang dikenakannya, serta lihatlah tak ketinggalan pula ribuan santri di kota santri yang hampir setiap ba'da sholat maktubahnya berduyun-duyun ke majlis ilmu. Tentram, tentram sekali hati ini ketika menyaksikannya. Islam seakan menemukan nafasnya. Dalam kebersamaannya, umat muslim secara tak sengaja menunjukkan wibawanya, dalam suasana ukhuwahnya umat muslim telah menunjukkan kehormatan akan jati dirinya.

Syiar Islam pun melebar. Yang jarang ke masjid pun menjadi sering ke masjid di bulan Ramadlan (terlepas dari ikut-ikutan karena malu atau tidak), yang pelit pun menjadi bersedia berbagi demi dilihatnya banyak saudaranya yang bershodaqoh, yang jarang mengaji pun menjadi sering membuka Al-Qurannya untuk ikut tadarus di musholla. Tak hanya orang tua, yang muda pun tampak bersemangat. Semuanya masih awalan memang, meski masih dalam tahap "ikut-ikutan" bukankah itu sebuah pintu menuju kebaikan yang lebih?

Tapi sayang sekali, keindahan tersebut di beberapa tempat hanya berasa sementara. Manis di awal, terasa hambar di sisa. Begitulah, sepuluh hari pertama memang amat terasa, tapi di hari-hari sisanya keindahan itu menjadi hampa sebagaimana hari biasa. Orang-orang yang berjama'ah di masjid untuk sholat tarawih pun semakin maju, maju shofnya. Mungkin benar adanya jika dikatakan bahwa Ramadlan bagaikan sebuah event pertandingan. Di babak penyisihan (10 hari pertama) banyak sekali peminatnya, dan di 20 hari sisanya (semifinal dan final) makin sedikit kontestannya.

Kasihan memang. Penulis sendiri saat melihat kondisi yang demikian menjadi teringat akan sebuah hadist dari Abu Hurairah, yang artinya kurang lebih begini :
“Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: “Sungguh aku takut kepada Allah”, seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas di-sembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata”. (H.R.Bukhary - Muslim).

Hubungannya dengan Ramadlan? Coba kita baca poin "....anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah ...".

Indahnya syiar Ramadlan yang kita rasakan semuanya bermuara pada satu rumah suci yakni masjid. Jika Ramadlan saja masjid kita cepat sepi, maka syiar Islam pun patut dipertanyakan sebagai konsekwensinya.

Adalah seorang pemuda di sini yang hendaknya lebih berperan aktif menggalakkan syiar ini. Taqorrub ilallah selama Ramadlan (setidaknya) merupakan wujud aplikasi nyatanya. Yang selanjutnya akan membawa hatinya untuk terpaut dengan masjid. Lihatlah, bukankah indahnya nur nuansa syiar bulan suci terpancar terutama dari masjid-masjid? Jika telah demikian, akhirnya jadilah mereka orang-orang yang mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karena Allah (gambaran : perhatikan betapa "mesranya" mereka yang berduyun jama'ah sholat tarawih, berangkat bersama dan pulang bersama. Menebar indahnya syiar di sepanjang jalan yang dilaluinya).

Menjadi suatu hal yang patut disesalkan jika yang terjadi malah kebalikannya, masjid malah dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Lebih "trend" apabila berada di mall-mall, bioskop-bioskop, cafe, club metropolis, dan taman-taman cangkrukan. Innalillah, itulah yang telah menghinggapi benak sebagian pemuda muslim saat ini. Sungguh kaum kuffar telah berhasil memainkan skenarionya untuk mencincang syiar Islam dengan menjauhkan generasi muda muslim dari masjid.

Maka, dengan momentum Ramadlan 1428 ini marilah kita bangkit bersama. Jalin ukhuwah, meriahkan masjid-masjid dan musholla-musholla kita selama bulan suci, hiasi hari kita dengan berbagai amal kebaikan, berlomba dan senantiasa berlomba untuk kebaikan di dalamnya. Sungguh menjadi impian kita bersama, bila indahnya nuansa Ramadlan tak hanya berada di Ramadlan saja. Syiar Islam akan menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Jadi, siapkah kalian, wahai ikhwah, untuk menjadi salah satu pionirnya?

*fyuh, setelah tertuda-tunda kesibukan akhirnya jadi juga artikelnya. Tapi telat, hiks.

By : Labib Fayumi
FTIf - ITS

6.9.07

Waladldlooolliin .... !




Aku duduk terpekur di pinggir serambi musholla. Al-Quran masih kudekap erat. Sesekali kupandang langit yang penuh bintang, sambil lamat-lamat bibir komat-kamit,"Ghoiril maghdluubi 'alaihim waladldlolliiin," apa yang salah? Pikirku. Sudah tiga hari ini kopyah yang bertengger di kepalaku terkena lecutan sabet bambu Abah (panggilan santri ke kyai ku). Kata beliau mahkroj huruf dlot ku masih 'keliru'. Sedih, tiga hari tanpa kemajuan. Padahal ketika aku sorogan (setor bacaan) ke kang Abror (nama samaran), menantu Abah, katanya tak ada masalah, bagus malah. Duh ...!

"Kang Dzakiy, hayooo .. ngelamun apa ...!" sebuah suara membuyarkan lamunanku. Kang Maman, ia meringis tersenyum sambil memegang pundakku dari belakang."Biasa kang ..., lagi nunggu giliran," jawabku beralasan. Betulkan? Giliran untuk mengaji ke kang Abror maksudnya."Sampeyan duluan aja, saya tak akhir-akhir wae," ujarku."Heee ... gitu ... orang nanya ngelamun apa malah diusir ya ya ... Oh ya kang, ntar ba'da isya' ajarin Fisika ya ...," Maman memijit-mijit pundakku keras-keras. Ketika aku berbalik hendak balas memijat, Maman sudah ngacir melarikan diri sambil senyum-senyum.

Aku menghela nafas. Suara santri yang sorogan ke Abah masih nyaring terdengar. Aku hendak membuka mushaf, ketika seraut wajah cantik terlongok dari pintu ndalem (sebutan santri untuk rumah kyai) sebelah musholla. Deg, mbak Rahma , putri kedua Abah. Abah, ketika saya menjadi santri di sana, beliau mempunyai dua orang putra, yakni mas Fudlail dan mbak Rahma. Mas Fudlail lebih tua dua tahun saya dan mbak Rahma 2-3 tahun lebih muda dari saya.

Saat menatap ke arahku, mbak Rahma tersenyum. Aku jadi salah tingkah, malu...!. Dengan bergegas aku masuk ke gedung asrama putra di samping kiri musholla (mushola, ndalem, asrama putra, asrama putri terhubung satu sama lain), dan duduk antri sorogan di barisan belakang.

Kang Abror mengamati pergerakan lisanku. Huruf demi huruf shuroh Al-Fatihah kubaca dengan mantap."Waladldlooolliin," Sesaat ..hmhmh ... kuhembuskan nafasku. Maklum membaca dengan suara keras dan makhroj yang benar-benar shohih, membuatku terengah-engah kelelahan.

Kulirik kang Abror, ia hanya manggut-manggut saja. Tandanya meyilakanku untuk melanjutkan bacaan yang akan ku setorkan. Sampai ayat terkahir, ternyata tak ada yang salah. Betulkah tak ada yang salah? Usai mengaji, kusempatkan mengeluh pada kang Abror kalau Dlot-ku masih salah di hadapan Abah."Tetep nderes mawon kang (tetaplah untuk banyak tilawah, kang)," itu saja yang beliau sarankan. Aku tambah 'manyun', beliau hanya tersenyum.

Isya', kurang lima menit. Aku masih mengulang bacaan Dlot-ku, di mana salahnya? Ku raba, ku rasa setiap jengkal makhrojnya. Ya Allah, berilah ketajaman pada lisanku untuk melafalkan dengan benar kalam-Mu. Tanpa sadar hatiku memanjatkan doa.

"Tong tong tong ... tong," bunyi kentongan tanda isya' ditabuh. Segera, terlihat para petugas keamanan pondok berseliweran 'mengahalau' santri-santri agar segera ke musholla. Santri di sini memang terdiri dari berbagi tingkat pendidikan, ada yang masih SD, SMP, dan SMA. Jika tak ada yang mengingatkan tentu santri-santri ciliknya lebih memilih bersenda gurau dari pada ke musholla. Huh ...repotnya !

"Kang ... kang ... kang Dzakiy, adzan kang," tiba-tiba seorang pengurus terkopoh-kopoh datang sambil meneriakiku. Lho? Masya Allah bukankah malam ini adalah jadwal saya adzan 'isya?."Oh inggih kang, ngapunten kulo supe ...(Iya kang, maaf saya lupa)" ujarku terburu-buru sambil meletakkan Al-Quran kecilku di atas kusen jendela asrama."Piye to kang, saking khusyu' nderes supe jadwal adzan," Aku hanya tersenyum menanggapinya sambil tergesa menuju mushola.

Kulihat ratusan santri sudah membentuk shaf dengan rapi."Allahu akbar .. Allaaahu akbar..,". Bukan suara jawaban adzan yang kudengar."Wah, ini pasti kang Dzakiy ya yang adzan. Bagusnya ...!" terdengar kasak-kusuk dari ruang musholla putri."Nggak penting blass," protesku serta merta. Dalam hati tentunya, namun yang lebih parah ... tampak beberapa akhwat kecil menongolkan wajahnya hendak mau melihatku adzan, mungkin begitu maksudnya. Alamaaaaaak....! Untung pengurus putrinya langsung bertindak.

Setelah sholat isya', para santri belajar pelajaran sekolah umunya. Aku masih malas. Maman yang tadi minta diajarin Fisika pun aku abaikan. Saat kubilang aku sedang nggak mood ia hanya nyengir kuda.

Kutemui kang Sholeh yang sudah bilghoib untuk menyimak Fatihahku, betul katanya. Ganti kang Zaid, betul juga, kang Ihsan, bagus banget begitu malah komentarnya. Ya Allaaaah ....!

Pelajaran yang lumayan malah kudapat dari kang Qosim, keponakan abah sendiri. Katanya begini, begitu (banyak pokoknya) dan aku disuruh mempraktekannya. Sudah bagus, begitu akhirnya komentar kang Qosim."Bagus lagi ... bagus lagi..," batinku.

Keesokan paginya, ba'da shubuh aku antri pertama setoran ke Abah. Mataku masih berat sebenarnya, maklum hampir semalaman memelototi Al-Fatihah ditemani kang Qosim yang juga 'nyambi' belajar.

Dengan tajam Abah mengawasi pergerakan lisanku. Sabet bambunya sudah teracung ke atas kepalaku. Aku menjadi gemetar."Ghoiril maghdluubi 'alaihim waladldlolliiin," kulafalkan dengan seksama tiap hurufnya. Dan ... sabetnya bergerak. Mataku terpejam ..., "Kalau memang salah ya pasrah," pikirku sedih. Satu, dua detik tak kurasakan sabetan bambu Abah di kopyahku. Kubuka mata, ternyata sabet bambu Abah tak berada di atas kepalaku lagi, beliau tak jadi memukul. Malah, beliau sudah mengalihkan perhatian ke santri lain yang juga sorogan (satu kali sorogan Abah menyimak tujuh santri sekaligus).

Mataku berkaca-kaca. Kulirik wajah abah, dan .... mata kami bertemu. Mungkin beliau heran mengapa aku terdiam. Abah mengangguk, mengisyaratkan bahwa bacaanku tadi sudah benar. Dan dengan mata yang hampir menangis kuteruskan bacaan Al-Quranku, meneruskan jatah sorogan yang sudah tiga hari tak bertambah sama sekali. "Ya Allah ... Memang hanya nabi-Mu yang paling fasih dalam melafadzkan huruf Dlot (Sabda Nabi :"Ana afshohu ma naqola bidldlood" (Aku adalah sefasih-fasihnya orang yang mengucapkan huruf Dlot)), maka berikanlah kefasihan dalam lisanku sebagaimana kefasihan yang ada pada nabi-Mu."

Saking seneng dan harunya, lelehan air mataku seperti tak henti mengalir hingga aku sorogan ke kang Abror."Lho kang Dzakiy, kenapa kok nangis, disabet lagi?," kang Abror bertanya keheranan. Dalam tangisku, aku hanya tersenyum."Mboten kang".


* Diambil dari kisah nyata, nama tokoh semua disamarkan

By : Labib Fayumi
FTIf - ITS