
"Talilah ilmu dengan menulisnya", ya itulah paling tidak "dhawuh" yang penuh hikmah dari seorang ulama. Diakui memang, menulis adalah salah satu tonggak imperium berdirinya kerajaan "ilmu" di dunia. Dengannya kita akan mampu berkomunikasi dengan tokoh, budaya, pemikiran, dan peradaban di sepanjang zaman.
17.7.07
Lembar Baru Bersama Atasan Baru

14.7.07
Malam dalam Dzikir

10.7.07
Kalut

1.7.07
Memoria Perang Ambon, Ladang Merebut Surga



Thola'al badru 'alaina min tsaniyyatil wada' wajabassyukru 'alaina ma da'a lillahi daa', senandung shalawat badar terdengar begitu merdu, menggetarkan hati-hati insan beriman, mengingatkan akan pujian kepada nabi pujaan. Begitu pula dengan apa yang kurasakan saat itu, aku tercenung sesaat demi merasakan gelora semangat yang terkandung di dalamnya.
Keheninganku pecah tatkala temanku, bukan, mungkin lebih pantas dikatakan bapak-bapak (beliau berasal dari Ambon dan sekarang sedang menempuh S2 di ITS), menceritakan bagaimana shalawat ini menjadi penyemangat para mujahid ketika pecah konflik Islam-Kristen di Ambon.
Manakala shalawat badar berkumandang di masjid-masjid seantero kota Ambon, itu pertanda bahwa pasukan besar mujahidin sedang diberangkatkan. Isak tangis pun turut mengiringi keberangkatan para mujahid. Suasana haru itu begitu terasa terutama di Masjid Agung Ambon.
Mengapa banyak isak tangis?Tak lain, shalawat badar ini ternyata mengiring mujahidin yang terdiri dari pasukan berani mati, istimewanya mereka semua adalah anak-anak yang seharusnya masih menikmati indahnya bermain kelereng di pelataran. Dengan berbaju putih, berselempang sebilah pedang, bersabuk untaian granat rakitan, dan memakai ikat kaki ala ninja bocah-bocah ini dengan mantapnya melangkahkan kaki, melewati barisan umat muslim yang berjajar mendoakannya, menuju pintu gerbang masjid yang beberapa puluh meter jauhnya. Konon, ketika pasukan istimewa ini diberangkatkan, tak seorang pun diperkenankan lewat di pintu gerbang masjid. Jika ada yang berani melakukannya, maka tebasan pedang imbalannya.
Mereka tak bermain perang-perangan, sekali lagi mereka sedang tidak bermain, ini adalah perang sungguhan. Bocah-bocah tersebut memang telah memilih mendarma baktikan jiwanya untuk agama dan tanah airnya. Sampai di sini aku merasa air mataku hendak menetes, ku lihat rona bapaknya ternyata beliau juga menahan haru demi mengingat masa-masa perang Ambon yang pernah dialaminya."Kita-kita ini, yang tua-tua memang bisanya ngomong saja, tapi kalau ditawari siapa yang bersedia turun jihad ternyata ga' ada yang mau. Malah kalah dengan bocah-bocah yang seharusnya menetek sama ibunya," ujar beliau sendu.
Lebih mengharukan lagi, ternyata para mujahid kecil ini telah berwasiat khususnya kepada kaum ibu-ibu agar dirinya didoakan gugur dimedan laga sebagai syuhada."Bu, doakan saya gugur dalam perang ya bu, doakan saya agar saya tak kembali", kontan saja hati ibu mana yang tak tersentuh akan harapan mulia dari seorang bocah yang masih begitu polos. Ibu-ibu yang dipamiti pun tangisnya makin menjadi, ujar mereka," Duh nak, kalau anak gugur, siapa yang akan melidungi ibu nantinya".
Aku benar-benar menangis mendengar cerita bapaknya, bagaimana bisa ya bagaimana bisa seorang bocah bisa mengerti akan besarnya makna nilai jihad, terlebih lagi ketenangan yang mereka miliki, sungguh aku merasa sangat kecil jika dibandingkan dengan mereka.
Tak sia-sia, dari pengorbanan mujahid kecil inilah salah satunya yang membawa kemenangan dan kewibawaan umat Muslim di Ambon. Di ceritakan, tatkala sholawat badar bergemuruh menggema mengiringi majunya pasukan berani mati ini, ayam jago sekalipun tak berani untuk berkokok, tunduk, hormat dengan lewatnya pasukan suci. Tak main-main pernyataan ini langsung diutarakan oleh salah seorang pasukan umat Kristiani.
Hingga satu waktu, muncul satu pahlawan kecil terkenal bernama Syam. Tanpa diketahui asal-usulnya, bocah bernama Syam ini sempat membuat kecut nyali pasukan Kristiani. Bahkan kepala dari Syam sempat dihargai 10,5 juta bagi yang berhasil membunuhnya. Namun, pada akhirnya Syam pun gugur sebagai syuhada. Waktu itu Syam salah ambil senjata, senjata yang ia gunakan adalah hasil rampasan dari pihak TNI oleh beberapa oknum pasukan Muslim sendiri. Nampaknya akibat menggunakan senjata tak halal inilah sehingga saat itu dari pihak muslim banyak jatuh korban dan salah satunya adalah Syam.
Mendengar cerita bapaknya, hati saya menjadi heran sekaligus sedih mengapa perang Ambon hanya disebut sebagai kerusuhan?Seharusnya bukan, itu adalah benar-benar perang. Pemindahan kata perang ke kerusuhan ini tentunya akan mengurangi ghirah umat muslim di daerah lain yang tak tahu-menahu akan keadaan sebenarnya. Tapi, beruntung benar-benar beruntung, aku menjadi salah seorang yang mendengarkan secara langsung cerita perang Ambon dari seorang saksi mata sekaligus "korban" dari perang Ambon itu sendiri.
Oh Maluku, Jaziiratul Muluk, Negeri Seribu Raja semoga kedamaian selalu menyertainya seiring makin mewanginya kubur-kubur para syuhada yang telah mengorbankan jiwa untuk membelanya.
By : Labib Fayumi
Ftif-ITS
15.6.07
Sang Idola
Uff! Masa-masa awal kuliah memang sangat sulit, tugas menumpuk ditambah pengkaderan (OSPEK versi ITS) yang nggak selesai-selesai. Setiap hari pulangnya malam terus kadang sampai harus nginap di kampus segala. Untung ada seorang ikhwan yang siap mengantar jemput aku atau menemaniku ketika aku terpaksa menginap di kampus ( he..he ..jangan curiga dulu ikhwan itu mas Irvan kakakku satu-satunya yang juga kuliah di ITS) jadi nggak perlu khawatir soal keamanan tapi yang mberatin capeknya itu lhoooo……..Oahm ngantuk.
Disadur dari Bunga Rampai 7 kafemuslimah.com
6.6.07
Di Tepi Dangau

Budak kecil duduk terpaku
memandang asyik sulur hijau
merasa sejuk hembusan bayu
dibuai sayang nyanyian alam
ia termangu
duduk di tepian dipan
yang beralaskan tikar pandan
riak kecil air bergemericik
menyusur kali kecil beralur lumpur
sesekali ...
terdengar kecipak kecibong
diselingi suara kodok mengorok
Budak kecil bangkit berdiri
berlari ...
di antara pematang huma
pipit-pipit kecil menarik hati
tapi ...
pipit-pipit enggan berkenalan
dan
pipit kecil pun terbang
"Ujang..."
terdengar sebuah seruan
budak kecil toleh memandang
ah ...
di tepi dangau sawah
telah menunggu sang ayah
dengan rantang di tangan kanan
hatinya pun mendendang girang
wah ...
saatnya makan
By : Labib Fayumi
TIf-ITS
2.6.07
Aih... Aih...
Cinta, duuuh cinta...Kadang ia bergaya bagaikan bintang film India, "Adinda..., belahlah dadaku ini, kan kau lihat ada dirimu di sana."
Sang gadis pun tersipu malu, hidung kembang-kempis dan jempol kaki jadi gede, "Idih... abang bisa aja nih."
Akhirnya, adik jadi milik abang seorang.
Cihuiii... nikah juga!!!
"Aduuh!" ternyata nyubitnya sakit juga, sambil ngedumel dalam hati,
"Iih... luntur deh make-up, nih ibu reseh banget sih!"
Rencana bulan madu pun tak lupa dipikirkan, "Bang, ntar kita bulan madu kemana?" tanya istri sambil bergelayut manja.
"Kemana aja boleh, terserah adikku sayang," sambil mencium pipi dengan mesra, muaaah! Maklum, pengantin baru.
"Huu... yang benar dong jawabnya," pura-pura merajuk.
"Kalo ke bulan, adik mau ikut?"
"Ikuuut...," sambil memegang erat tangan kakanda tercinta.
Aih... aih...
* * *
Cinta, duuuh cinta...
Jam kerja kadang digunakan untuk telpon-telponan, "Lagi ngapain, honey?"
Karena masih pengantin baru, masih gede rasa cemburu.
"Hani? Siapa tuh Hani? Kan namaku bukan Hani, pacar baru lagi ya?"
Hiks... hiks... hiks...
Hah???
* * *
Ah...
* * *
"Suami istri saling cekcok atau bertengkar itu hal yang biasa," beliau kembali menambahkan.
"Wak Haji juga dong?" cepat memotong.
"Lha iya, emang saya bukan manusia?" Wak Haji menjawab sambil mesem-mesem.
"Lho, mestinya Wak Haji ngasih contoh yang baik, masak udah haji kok bertengkar?"
Wuaaah...!!!
"Aih... aih... Wak Haji gitu aja marah, terusin deh" senyum-senyum.
Sambil menahan gemes, Wak Haji pun melanjutkan, "Neng juga harus inspeksi diri sendiri..."
"Mungkin introspeksi ya Wak, maksudnya?" membenarkan.
"Oh iya, ya itu..., Neng juga harus intrupsi"
"Introspeksi Wak, bukan intrupsi!" kembali membenarkan, sembari menahan kesal.
"Aduuh... susah ya pakai istilah tingkat tinggi, apa tadi, inflasi?" Wak Haji bertanya kembali.
Wuaaah...!!!
"Aih... aih... Neng, gitu juga marah, he... he... he...," Wak Haji terkekeh-kekeh, girang banget bisa membalas.
"Maksudnya Wak Haji?" bertanya, karena belum jelas.
"Iya, coba si Neng inspeksi, eh... apa tadi, inflasi?" sahut Wak Haji seraya membenarkan letak kopiahnya.
"Idih mulai lagi nih, introspeksi, Wak Haji" sambil menahan senyum.
* * *
Krek...
Suara pintu dibuka, suami tercinta baru pulang kerja.
"Aih... aih..., mau kemana malam-malam begini?" tanya suami curiga, melihat istri yang berdandan begitu cantiknya.
Ia hanya diam, dan tersenyum manis sementara kekanda tercinta masih bengong, menatap tak percaya.
"Nggak kemana-mana, emangnya gak boleh tampil cantik di rumah?" jelas adinda sambil mengedipkan genit sebelah matanya.
"Kata Wak Haji, istri itu harus melayani suami dengan baik, termasuk tampil cantik saat ia ada di rumah," menirukan apa yang telah didengarnya di mushola.
"Abang...," istri berkata perlahan.
"Aih... aih..., emangnya saya mau ngomong apa," gerutunya dengan manja, "Cuma mau nanya, kan udah awal bulan, uang gajiannya mana?"
Hah???
Wallahua'lam bi shawab.
*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,
Abu Aufa
Diambil dari : Bunga Rampai 11
