Sabtu pagi kemarin, Dzakiy lari-lari. Tak ada teman, sendiri. Saat berangkat, jam di masjid Dzakiy masih menunjukkan pukul setengah enam. Waktu yang cukup longgar bila hanya sekedar mencari udara segar. Berpeci putih, kaus biru laut, dan celana hijau, Dzakiy berlari kecil menelusuri trotoar jalanan Ghra Sepuluh Nopember. Hmmm, udaranya segar.
Sudah hampir dua putaran Dzakiy mengelilingi jalan Grha ketika sebuah obyek kecil berwarna putih terlihat melesat ke angkasa. Arahnya sebelah timur laut Grha atau mungkin tepatnya selat Madura. Awalnya Dzakiy mengira itu pesawat tempur AU yang sedang berlatih. Namun, ditilik dari gerak melesatnya yang cepat ke atas dan meninggalkan ekor awan putih yang panjang, Dzakiy mengambil kesimpulan itu pasti bukan pesawat tempur. Lalu, benda apakah gerangan ?
Mata Dzakiy sampai terpicing mengamati benda putih itu. Takjub. Ya, obyek itu lebih mirip sebuah roket dari pada sebuah pesawat. Apakah benar itu roket ? Sekali lagi mata Dzakiy terpicing. Benda itu melesat ke selatan dengan mengambil gerak parabola. Oh, bukan, tepatnya bergerak parabola ke barat dengan sudut parabolanya miring ke selatan.
Sesaat Dzakiy teringat akan model bentuk satelit palapa. Setidaknya obyek yang Dzakiy anggap roket itu bentuknya demikian. Berbentuk tabung panjang, moncong runcingnya tak ada atau mungkin tak jelas ?, dengan dua sirip di tengahnya. Anggap saja sebagai sayap tapi terlalu mungil kalau disebut sayap. Setelah berparade dengan gagahnya di langit pagi, roket itu akhirnya lenyap di arah barat.
Selama benda itu di angkasa, Dzakiy sempat berpikir macam-macam. Wah, jangan-jangan ada yang sedang melempar roket berhulu ledak ke Surabaya. Ah, tidak. Kalau Surabaya luluh lantak bagaimana ?. No, no, no it's impossible.
Hingga jogging putaran ke tiga, ihwal roket putih itu masih menyesaki pikiran Dzakiy. Diakui, pemilihan waktu peluncuran itu sangatlah tepat. Pagi yang sepi, tak banyak orang yang akan memperhatikan obyek itu. Saat roket itu mengangkasa pun, sepertinya hanya Dzakiy yang mengamati ke atas. Tukang sapu jalan, pak satpam kampus yang senam, satu dua orang yang jogging, semuanya tak acuh.
Lagi pula, waktu pagi sangat ideal karena angin masih sepi. Apalagi ini pagi yang cerah. Roket itu tak akan terkendala hembusan angin sehingga gaya dorongnya maksimal bekerja, atau gaya gesek udara yang mengenainya minimal. Sampai di sini, Dzakiy mengakui, orang yang berada dibalik peluncuran obyek itu telah memperhitungkan semuanya dengan sangat matang. Oh ya, satu lagi, ini yang istimewa, roket itu meluncur tanpa bersuara. Ini tentu sangat berbeda dengan pesawat tempur yang bunyinya meraung di angkasa. Warna putih roket itu pun bisa jadi bertujuan kamuflase. Mendung-mendung puting di pagi cerah dapat menyamarkan roket itu kala mengangkasa.
Ah, Dzakiy makin penasaran. Teknis yang terlalu sempurna di balik pelucuran sebuah obyek putih. Benda apakah itu sebenarnya ? apakah memang ada ilmuwan yang diam-diam mencoba sebuah penemuan ? Bila ya, tentu fenomena ini bisa menjadi terobosan pesawat siluman. Seandainya ITS juga meluncurkan roket percobaan, ah alangkah hebatnya ! Roket itu bahannya apa saja ya ? Hmmm konsep fisika, kimia, informatika, dan elektronika itu seharusnya yang dilibatkan jikalau kasusnya roket kendali. Uh, pikiran Dzakiy jadi melantur. Dari pada bertanya-tanya sendiri, mungkin dari pembaca ada yang bisa memberi penjelasan tentang roket putih yang Dzakiy lihat ?
Read More..