5.10.09

Sumber Bencana


double click the image to enlarge

Dari Ali bin Abi Thalib : Rasulullah shollallohu 'alaihi wasallam bersabda : "Apabila umatku telah melakukan lima belas perkara, akan datang dengan (lima belas perkara itu) bencana, yaitu :

1. Apabila harta kekayaan (hanya) silih berganti di kalangan pejabat dan orang - orang kuat
2. Jika amanah telah dianggap sebagai sumber kekayaan
3. Jika zakat telah dihutang (tidak dibayarkan)
4. Jika suami tunduk kepada istri
5. Durhaka kepada ibunya (orang tua)
6. Berbuat baik kepada teman lupa kepada orang tuanya
7. Tingginya suara di masjid-masjid
8. Jika masyarakat mengangkat orang fasik sebagai pemimpin di antara mereka
9. Adanya pemimpin masyarakat yang paling rendah kedudukannya di antara mereka
10. Orang dimuliakan karena takut kejahatannya
11. Minuman keras telah merajalela
12. Kain sutera telah (umum) dipakai, (yakni menonjolkan kemewahan hidup)
13. Wanita (biduanita) dengan alat musik telah menjadi kegemarannya
14. Orang mengajar bukan karena agama
15. Ulama akhir zaman telah mengutuki (menyalahkan) ulama terdahulu.

Jika demikian, maka tunggulah bencana berupa udara panas, gempa bumi, penyakit yang dapat merubah wajah, dan hujan batu." (HR. Turmudzi)

Read More..

3.10.09

Pengkaderan Masih Bertahan



Bentakan dan teriakan, suara-suara itu membahana pagi ini. "Hhhh, pengkaderan telah dimulai," batinku. Sungguh merepotkan, saat ada agenda ke kampus (walau Sabtu), selama perjalanan harus menyaksikan parade maba berseragam. Belum lagi ketemu dengan panitia pengkaderan yang memasang tampang sangar, melarang orang masuk ke area pengkaderan. Padahal, areanya ya kampus itu sendiri.

Untuk menuju ke jurusanku banyak kampus jurusan lain yang harus dilewati (note:saya jalan kaki) : PENS ITS, PPNS, T.Geomatika atau bisa juga lewat jalur T. Industri, Sistem Informasi, D3 T. Kimia, T. Lingkungan, PWK, dan T. Geomatika. Bayangkan, kalau tiap jurusan mengadakan pengkaderan, berapa banyak tampang sangar yang harus dilalui ? Dan kalau tak boleh masuk (baca: melintasi) area pengkaderan, saya harus lewat mana ?

Namun, terlepas dari apa yang saya alami (actually, there is no problem when I pass through them :p), terlaksananya pengkaderan tahun ini membuktikan bahwa ormawa masih bertahan. Kendati ada isu, pengkaderan dihapuskan, toh mahasiswa masih menganggapnya angin lalu. Sekalipun, rektorat melarang, sepertinya pengkaderan tetap jalan. Salut deh buat para panitianya.

Sebenarnya, memang banyak suara-suara yang menginginkan pengkaderan dihapus. Alasan sudah ketinggalan jaman lah, bukan waktunya lagi lah, era yang berubah lah dan sebagainya. Hemat saya, kurang tepat kalau sampai pengkaderan dihapuskan. Hanya, konsepnya saja yang harus dikembangkan. Masa, konsep yang dipakai tetap versi era 80'an ke bawah. Kita itu mahasiswa institut teknologi dan teknologi selalu update tiap waktu. Jadi, kalau bisa konsepnya juga update. Memalukan bukan kalau kita tetap jadi orang JADUL ?

Satu perguruan tinggi swasta terkemuka yang satu kota dengan kita telah menerapkan konsep update ini. Tiap tahun, mereka mengoreksi konsep pengkaderan dan mengembangkannya. Satu pressing yang mereka terima, konsep tahun ini HARUS LEBIH BAIK dari konsep tahun sebelumnya. Kita bisa mencontoh mereka. Tidak usah malu. Kita harus berani mengakui bahwa menajemen di sisi mahasiswa kita memang masih sangat kurang.

Jadi, bukan sekedar suara keras atau yel-yel tanda kekompakan yang semata-mata ditonjolkan. Maba harus memperoleh bekal yang lebih dari apa yang diperoleh kakak-kakaknya. Bukan hanya berarti memperoleh dengan cara "diberi" tapi juga harus mencari. Inilah ujian untuk para senior, bagaimana adik-adiknya menjadi para pencari yang tangguh, pencari yang selalu haus, dan pencari yang suatu saat juga akan memberikan apa yang mereka peroleh kepada para pencari generasi selanjutnya. Selamat menjalankan pengkaderan. Tiap detik tindakan anda, sangat menentukan nasib bangsa.


Sabtu, 3 Oktober 2009
* sambil menunggu

Read More..

30.9.09

Tausyih Maqom Lagu Al Quran

Salam, ada comment dari pengunjung yang menginginkan teks tausyih naghomul quran. Alhamdulillah sudah saya upload dan maaf baru sekarang bisa nge-share. Untuk downloadnya silakan kunjungi link berikut ini : http://www.filefactory.com/file/a0ddbba/n/Tausyih_Maqom_Lagu_Al_Quran_pdf

Bagi yang sudah mengunduh, jangan lupa untuk memberi saran atau sekedar jejak di blog kolongdapur. Terima kasih.

Read More..

Perbedaan Waktu Shubuh

Mungkin anda sudah tahu bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam penentuan waktu sholat di beberapa kalender yang berbeda. Waktu sholat yang dimaksudkan di sini adalah waktu untuk sholat Fajr (Shubuh), Ashr, dan Isya’.

Untuk perbedaan dalam sholat Ashr tak ada masalah, mengingat memang ada perbedaan pandangan antara imam-imam madzhab fiqh. Terutama imam Hanafi dengan imam-imam yang lain.

Namun, tidak demikian halnya untuk sholat Isya’ dan Shubuh. Perbedaan yang dijumpai pada keduanya lebih karena dilatar belakangi oleh perbedaan metode kalkulasi yang digunakan. Secara singkat, ada 5 lembaga / organisasi yang menjadi sumber rujukan utama dalam perhitungan waktu sholat di dunia. Kelima lembaga tersebut yakni :

a. World Moslem League (Liga Muslim Dunia), bermarkas di Saudi
b. Islamic Society of North America (ISNA), di Amerika
c. Ummul Quroo, Makkah
d. University of Islamic Science, Karachi, Pakistan
e. Egyptian General Authority of Survey atau Egyptian Council, Mesir

Untuk melihat perbedaan besar dalam hasil perhitungan waktu sholat Fajr dan Isya’, silakan kunjungi situs berikut : http://www.islamicfinder.org

Jika diperhatikan (dari situs di atas), metode kalkulasi dari lembaga-lembaga tersebut memiliki kemiripan kecuali ISNA. Dan inilah yang kemudian menjadi masalah di negara-negara yang mengikuti metode non – ISNA, termasuk Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir muncul wacana dari para ulama bahwa waktu yang ditetapkan pemeritah (yang mengikuti non - ISNA) untuk sholat Shubuh terlalu awal dan adzan dikumandangkan sebelum waktunya.

Beberapa ulama yang mewacanakan masalah tersebut di antaranya :
- Syaikh Ibnu Utsaimin, Arab Saudi
- Syaikh Al Albani
- Syaikh Jad el Haq ( rektor Universitas Al Azhar periode yang lalu)
- Syaikh Mohamed Hasan, Mesir
- Syaikh Mohamed Hussain Yaakub, Mesir
- Syaikh Yaser Brahmi, Mesir
- Syaikh Ahmad H’tiba
- Dan masih banyak yang lain

Tak perlu penjelasan yang mendetail, ternyata yang menjadi akar masalahnya adalah : metode kalkulasi yang digunakan keempat lembaga selain ISNA tersebut adalah metode yang sangat tua (yaitu hasil keputusan Egyptian Council pada tahun 1906 M .....!!!). Parahnya, saat itu, umat Muslim cenderung tak memiliki keinginan membuat kalkulasi sendiri padahal mereka tahu bahwa kalkulasi tersebut didasarkan pada sistem penanggalan barat. Tentu saja istilah fajr dalam penanggalan barat jauh berbeda dengan fajr milik umat Islam.

Pada mulanya kesalahan yang muncul tidaklah begitu terlihat. Ambillah contoh di Saudi misalnya, adzan di sana dikumandangkan 5 menit sebelum masuk waktunya. It isn’t a big deal. Ya, tak masalah.

Namun, seiring dengan perkembangan dalam Islam, metode klasik itu kemudian benar-benar menunjukkan ke-error-annya. Perhitungan waktu sholat yang dilakukan di beberapa tempat menunjukkan hasil yang sungguh di luar toleransi. Di Mesir misalnya, adzan di sana dikumandangkan bahkan 30 menit lebih awal sebelum waktu shubuh masuk. Begitu juga dengan beberapa wilayah di Eropa.

Metode ISNA adalah Pilihan Terbaik

Di kebanyakan software adzan, biasanya metode ISNA telah diikutsertakan. Metode ini merupakan metode yang paling akurat untuk waktu Amerika Utara dan sebenarnya juga akurat untuk seluruh dunia. Beberapa alasan yang melandasinya :

>> ISNA calculation dibuat berdasarkan metode modern dan menggunakan akurasi sudut 15 derajat
>> Syaikh Faishal, salah seorang masyayikh ’alim di komunitas Muslim Kanada yang pernah belajar di Arab Saudi dan Mauritania, mengungkapkan bahwa seorang kawan beliau, ahli Matematika, memberitahunya : metode ISNA adalah yang paling akurat di North America
>> Hasil perhitungan ISNA bila dicocokkan dengan kondisi nyata (melihat fajar shodiq secara langsung), sangatlah bersesuaian
>> Adzan shubuh di beberapa negeri Muslim yang dikumandangkan sebelum waktunya menunjukkan selisih yang demikian besar antara metode ISNA dan non-ISNA.

Untuk lebih jelasnya, silakan cek pranala berikut : http://www.islamway.com/?iw_s=Lesson&iw_a=view&lesson_id=46983. Syaikh Faishal (saat itu beliau di Arab Saudi) menegaskan bahwa time table ISNA sangat tepat untuk menentukan waktu sholat di sana (Saudi).

Catatan Lanjut Sahabat di Montreal (Kanada) – English Version

In Montréal, some masjids follow ISNA, others follow the world muslim league. But last year and this year, the MCM calendars went towards the world muslim league. I guess that the purpose was to take a precaution for fasting and have people to break with the earliest of the two (world muslim league) but this is not the right decision...

Why?
Simply because the precaution for prayer is more important than the precaution for fasting. It's maybe a good idea to ask ppl to stop eating before it's time but people will pray before Fajr time and that's a big problem!

So my sincere advice to my brothers and sisters is to follow the ISNA calculation for Fajr prayer. It's up to you if you want to take a prevention and stop eating before the ISNA fajr time (although i don't do it and i fully follow ISNA) but for Salat you should really take precaution and:
- make sure u don't pray before it's ISNA's fajr time
- make sure ur local Imam doesn't make Salat before it's ISNA's adhan and explain the situation to him

As for the countries overseas they refuse to say about their mistake and change their calendars cause they made them decades ago and they don't want to say that they were wrong

Plz note that i'm not coming up with something off my head and this issue is known to the scholars and many committees from Al Azhar, Saudi, mathmaticiens... researched it and had that conclusion

and Allah knows best...


Referensi tambahan :

http://www.islamway.com/?iw_s=Lesson&iw_a=view&lesson_id=797
http://63.175.194.25/index.php?ln=ara&QR=26763

English :
http://63.175.194.25/index.php?QR=26763&ln=eng

Advanced :
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=31780&highlight=%CA%DE%E6%ED%E3+%C7%E1%DE%D1%EC

http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=4034&highlight=%CA%DE%E6%ED%E3+%C7%E1%DE%D1%EC

* Artikel ini ditulis dan diterjemahkan dari salah satu thread di forum komunitas muslim internasional (Spanish maybe, I have a doubt about it). Semoga bermanfaat.


Read More..

20.8.09

Waktu Shubuh Kita Terlalu Maju



Ada wacana bahwa jadwal sholat shubuh yang ada di kalender SALAH. Sebenarnya, ini bukan wacana lagi karena sudah ada yang membuktikan. Di Surabaya, tertera pada kalender bulan ini, masuk waktu shubuh pukul 04:17 dan berubah teratur hingga 04:13. Setelah iseng-iseng ditest (ru'yah fajar shodiq di pantai Kenjeran), apakah pukul sekian sudah benar-benar muncul fajar shodiqnya? Ternyata faktanya mencengangkan. Adzan shubuh kita kurang lebih 20 menit lebih awal dari fajar shodiq yang sebenarnya (bukan versi kalender) muncul. Ditengarai, jadwal yang ada di kalender adalah munculnya fajar KADZIB.

Kepada saudara muslimin semuanya, harap waspada. Mengingat masalah ini menyangkut FARDLU 'AIN, alangkah baiknya bila saudara mencobanya sebagai pembuktian (terutama ikhwah yang ada di daerah dekat pantai). Sebagaimana penentuan awal Ramadlan yang sebenarnya adalah ru'yatul hilal, penentuan waktu sholat shubuh yang sebenarnya adalah ru'yah fajar shodiq, bukan jam. Jam hanya sebagai bantuan.

Sedikit petunjuk tentang fajar kadzib dan fajar shodiq, disebut fajar kadzib bila muncul berkas cahaya di langit yang arahnya vertikal kemudian diikuti gelap. Adapun fajar shodiq bilamana berkas cahayanya horizontal dan terus diikuti terang (makin terang yakni terangnya pagi). Bagi yang ingin membuktikan, ru'yah harus dilakukan di tempat yang terbuka dan jauh dari sumber cahaya lampu (sekarang kan banyak lampu-lampu besar, dikhawatirkan mempengaruhi akurasi hasil ru'yah fajjar).

Read More..

7.6.09

Roket Putih

Sabtu pagi kemarin, Dzakiy lari-lari. Tak ada teman, sendiri. Saat berangkat, jam di masjid Dzakiy masih menunjukkan pukul setengah enam. Waktu yang cukup longgar bila hanya sekedar mencari udara segar. Berpeci putih, kaus biru laut, dan celana hijau, Dzakiy berlari kecil menelusuri trotoar jalanan Ghra Sepuluh Nopember. Hmmm, udaranya segar.

Sudah hampir dua putaran Dzakiy mengelilingi jalan Grha ketika sebuah obyek kecil berwarna putih terlihat melesat ke angkasa. Arahnya sebelah timur laut Grha atau mungkin tepatnya selat Madura. Awalnya Dzakiy mengira itu pesawat tempur AU yang sedang berlatih. Namun, ditilik dari gerak melesatnya yang cepat ke atas dan meninggalkan ekor awan putih yang panjang, Dzakiy mengambil kesimpulan itu pasti bukan pesawat tempur. Lalu, benda apakah gerangan ?

Mata Dzakiy sampai terpicing mengamati benda putih itu. Takjub. Ya, obyek itu lebih mirip sebuah roket dari pada sebuah pesawat. Apakah benar itu roket ? Sekali lagi mata Dzakiy terpicing. Benda itu melesat ke selatan dengan mengambil gerak parabola. Oh, bukan, tepatnya bergerak parabola ke barat dengan sudut parabolanya miring ke selatan.

Sesaat Dzakiy teringat akan model bentuk satelit palapa. Setidaknya obyek yang Dzakiy anggap roket itu bentuknya demikian. Berbentuk tabung panjang, moncong runcingnya tak ada atau mungkin tak jelas ?, dengan dua sirip di tengahnya. Anggap saja sebagai sayap tapi terlalu mungil kalau disebut sayap. Setelah berparade dengan gagahnya di langit pagi, roket itu akhirnya lenyap di arah barat.

Selama benda itu di angkasa, Dzakiy sempat berpikir macam-macam. Wah, jangan-jangan ada yang sedang melempar roket berhulu ledak ke Surabaya. Ah, tidak. Kalau Surabaya luluh lantak bagaimana ?. No, no, no it's impossible.

Hingga jogging putaran ke tiga, ihwal roket putih itu masih menyesaki pikiran Dzakiy. Diakui, pemilihan waktu peluncuran itu sangatlah tepat. Pagi yang sepi, tak banyak orang yang akan memperhatikan obyek itu. Saat roket itu mengangkasa pun, sepertinya hanya Dzakiy yang mengamati ke atas. Tukang sapu jalan, pak satpam kampus yang senam, satu dua orang yang jogging, semuanya tak acuh.

Lagi pula, waktu pagi sangat ideal karena angin masih sepi. Apalagi ini pagi yang cerah. Roket itu tak akan terkendala hembusan angin sehingga gaya dorongnya maksimal bekerja, atau gaya gesek udara yang mengenainya minimal. Sampai di sini, Dzakiy mengakui, orang yang berada dibalik peluncuran obyek itu telah memperhitungkan semuanya dengan sangat matang. Oh ya, satu lagi, ini yang istimewa, roket itu meluncur tanpa bersuara. Ini tentu sangat berbeda dengan pesawat tempur yang bunyinya meraung di angkasa. Warna putih roket itu pun bisa jadi bertujuan kamuflase. Mendung-mendung puting di pagi cerah dapat menyamarkan roket itu kala mengangkasa.

Ah, Dzakiy makin penasaran. Teknis yang terlalu sempurna di balik pelucuran sebuah obyek putih. Benda apakah itu sebenarnya ? apakah memang ada ilmuwan yang diam-diam mencoba sebuah penemuan ? Bila ya, tentu fenomena ini bisa menjadi terobosan pesawat siluman. Seandainya ITS juga meluncurkan roket percobaan, ah alangkah hebatnya ! Roket itu bahannya apa saja ya ? Hmmm konsep fisika, kimia, informatika, dan elektronika itu seharusnya yang dilibatkan jikalau kasusnya roket kendali. Uh, pikiran Dzakiy jadi melantur. Dari pada bertanya-tanya sendiri, mungkin dari pembaca ada yang bisa memberi penjelasan tentang roket putih yang Dzakiy lihat ?

Read More..

19.5.09

Punk Ternyata Bisa Sopan



Masih kelanjutan dari pulang kampung Sabtu (9/5), esok sorenya aku sudah balik ke Surabaya. Tak ingin pengalaman kemarin berulang, aku memutuskan untuk duduk di gerbong paling belakang sekaligus pintu paling belakang. Wuih, isis plus nyantai. Duduknya nglesot.

Kereta baru tiba di stasiun Kediri ketika rombongan anak-anak muda bergaya punk itu masuk ke kereta. Intuisi yang sama denganku. Mereka tak ingin repot-repot berdesakan di tengah gerbong kereta. Pintu belakang bagian gerbong paling belakang pun jadi pilihan. Praktis aku harus rela berbagi tempat nglesot. Tak apalah.

Kuperhatikan style pakaian mereka. Celana jeans ketat, kaus hitam ketat -ada yang longgar juga- lebih mantap dengan gambar tengkorak, anting-anting di telinga atau hidung, rambut berdiri miring separo di kepala bagian depan dan yang separonya habis digundul - dicat pula, beberapa di antaranya ada yang memakai kain lebar untuk menutupi mulut. Oh ya, tak ketinggalan juga rantai panjang yang dikaitkan ke ikat pinggang dan masuk ke dalam saku. Ck ck ck ck, begini ternyata ya luar biasanya gaya punk.

Ditambah dengan tingkah yang terkesan ugal-ugalan serta grammar bicara khas anak muda cangkrukan, lengkap sudah ke-punk-an mereka. "Duh, kenapa juga aku kok repot-repot mengamati mereka? Mending tiduran lebih enak," batinku menggerutu. Ku pejamkan mata, mencoba mengumpulkan segala kenikmatan dari area di sekitarku. Hmmm, uuuuuh bau pesing menggangguku. Pintu kamar kecil kereta yang berada di arah depan samping kananku terbuka. "Oi, coy tutupen tuh pintu. Pesing kaya' uy** *s*. .... bla bla," seorang di antara mereka meneriaki kawannya yang nongkrong di pintu kamar kecil.

Sambil bersandar di pintu kereta, kuarahkan pandangan ke depan. Sisi di sampingku masih kosong tapi aku heran kenapa mereka tak menempatinya? Hihihihihi, aku sadar. Mungkin mereka merasa sungkan. Sangat kentara dari tingkah lakunya.

Sebenarnya, aku berinisiatif ingin mempersilakan tempat kosong itu untuk diduduki. Tapi tak jadi. Ku perhatikan mereka,"Kalau sudah pegal-pegal pasti mereka duduk dengan sendirinya," pikirku.

Satu stasiun terlewati, dua stasiun terlewati, tiga, empat, dan .... Ah, perkiraanku terbukti. "Mas ipun ngandap pundi nggiih?" (Masnya turun mana yaaa) salah satu punker itu menyapa sambil mengambil posisi duduk. Teman-temannya yang lain terdiam, menatap kearahku. Sontak, tawaku hampir meledak. Kejutan luar biasa, punker ternyata bisa bahasa Jawa halus juga ya.

Menahan geli, aku menjawab keramahan yang tak biasa itu,"Oh, ngandap Gubeng Mas." Percakapan selanjutnya bisa diperkiraan,"Kuliah nopo kerja?", "Bidhal saking pundi?" dan pertanyaan semacamnya kemudian meluncur. Tapi, belum genap sampai sepuluh pertanyaan dia sudah terdiam. Terkantuk-kantuk. Hihihihihi.

Hari ini, aku menemukan satu pelajaran. Tak disalahkan bila kita menjustice seseorang berdasarkan perilakunya namun selama orang yang bersangkutan menjaga dan menghargai sesamanya, wajiblah bagi kita membalas itikad baik yang ditunjukkannya.


Read More..