6.10.07

Ketika Abu Bakar Bermimpi

Sebuah cerita yang indah :

Diriwayatkan dari Abu Bakar Shiddiq R.A.Pada suatu malam, dalam tidurnya, beliau melihat mimpi yang sangat langka. Dan di tengah tidurnya tersebut, Abu Bakar menangis keras-keras hingga orang yang berada di luar rumahnya mendengar tangisannya. Dan tak di sengaja, lewatlah sahabat Umar bin Khattab R.A di depan rumah beliau. Demi didengarnya suara tangisan, akhirnya Umar mengetuk pintu rumah Abu Bakar. Abu Bakar pun terbangun dan membuka pintu rumahnya. Tapi, linangan air mata masih mengalir dari matanya yang sembab. Melihat beliau menangis, Umar pun bertanya,"Kenapa engkau menangis?"."Kumpulkan seluruh sahabat, supaya aku bisa memberi khabar tentang apa yang aku lihat dalam mimpiku," perintah Abu Bakar.

Setelah para sahabat berkumpul, akhirnya Abu Bakar pun bercerita :

"Sesungguhnya aku melihat bahwa hari kiamat telah datang. Dan aku melihat segolongan manusia berada di atas mimbar yang terbuat dari cahaya, wajah mereka juga bercahaya bagaikan bintang. Aku pun bertanya kepada malaikat yang berada di sana,"Siapa mereka?"."Mereka adalah para nabi yang sedang menunggu Muhammad, karena pada Muhammad lah kendalinya syafa'at berada". Dan aku pun bertanya,"Dan di mana Muhammad? Bawa aku pada beliau, aku adalah pelayan sekaligus sahabat beliau, Abu Bakar". Maka malaikat pun membawaku pada Rasulullah. Dan apa yang aku lihat? Aku melihat Rasulullah berada di tiang 'Arsy. Dua tangannya terbentang bersama sorbannya, beliau sedang berusaha menghalangi pintu neraka dengan kedua tangannya. Dan aku mendengar beliau memohon,"Ilaahii ummatii, ilaahii ummatii, ilaahii ummatii. Di antara mereka ada para ulama, orang-orang sholeh, orang-orang yang haji dan umroh, orang-orang yang berperang dan para mujahidin ...". Dan tiba-tiba terdengar suara,"Hai Muhammad, engkau hanya ingat pada thoifah yang tho'at, tapi tidak ingat pada thoifah yang lain. Ingatlah pada orang-orang yang dzolim, peminum khamr, wanita yang berzina, dan orang-orang yang memakan riba (mereka seharusnya di siksa, mengapa engkau tetap menghalangi pintu neraka?)". Dan aku mendengar Rasulullah menjawab,"Yaaa Rabb, memang demikianlah mereka adanya, tetapi tak satu pun dari mereka yang menyekutukan-Mu, mereka tidak menyembah berhala, tidak mengatakan Engkau beranak, dan mereka tidak goyah dalam tauhidnya. Maka, wahai Tuhanku terimalah syafa'atku untuk mereka". Maka aku berkata kepada Rasulullah:"Irfiq binafsika yaa Muhammad". Kemudian Rasulullah berkata kepadaku:"Hai Abu Bakar, sungguh aku telah memohon kepada Rabbku untuk memberikan syafa'at kepada umatku, seluruh umatku atau sebagiannya". Namun belum sempat aku menjawab Rasulullah, engkau telah mengetuk pintu, membangunkanku dari tidurku yaa Ibnul Khattab."

Setelah Abu Bakar bercerita demikian, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu "... (aku telah memintakan syafaat untuk) seluruh umat sebanyak tiga kali wahai Abu Bakar". Serentak Abu Bakar dan Umar bin Khattab berucap:"Alhamdulillaah".

Hikaayatud Dzoriifah shohifah 39

By : Labib Fayumi

20.9.07

Ramadlan, Wahana Menebar Syiar



Ramadlan tiba, segenap umat muslim bersuka cita. Semuanya berlomba, mengumpulkan butir mutiara pahala di bulan mulia. Musholla dan masjid-masjid penuh sesak, tak mampu menampung jumlah jama'ah yang membludak. Dengung suara tilawatil quran, dengan gagahnya berkumandang. Tak ketinggalan, beribu zakat dan shodaqoh berlomba dikucurkan. Indah .. indah nian. Nuansa islam begitu hidup karenanya.

Maklum memang, bila umat mukmin menyambutnya sedemikian rupa. Ramadlan, ibaratnya merupakan tempat persinggahan dan peristirahatan. Tempat menghela nafas dan melepas lelah dari jenak-jenak hidup yang membosankan. Setelah sebelas bulan lamanya kita "ngalor-ngidul" berurusan dengan dunia, hanya memperhatikan jasadiyah kita, kini saatnya kita harus kembali memaksimalkan diri untuk lebih memanjakan ruhiyah kita. Menyucikan hati serta membersihkan diri dari noda-noda dosa yang telah kita buat sebelas bulan lamanya. Sekaligus menjadi trigger untuk mengawali kembali liku-liku hidup setelahnya.

Bagi penulis sendiri, kehadiran Ramadlan tahun ini telah mengingatkan akan indahnya Ramadlan tahun-tahun sebelumnya. Tentunya dengan harapan semoga kenangan indah itu terulang lagi untuk Ramadlan tahun ini, atau lebih malah.

Dan sebagian dari kenangan tersebut adalah hidupnya nuansa keislaman di bulan suci ini. Lihatlah, bagaimana ketika muslim muslimat dengan semangatnya berduyun-duyun pergi ke masjid, yang muslimah anggun dalam putihnya, yang laki-laki pun anggun bersama koko dan kopyah yang dikenakannya, serta lihatlah tak ketinggalan pula ribuan santri di kota santri yang hampir setiap ba'da sholat maktubahnya berduyun-duyun ke majlis ilmu. Tentram, tentram sekali hati ini ketika menyaksikannya. Islam seakan menemukan nafasnya. Dalam kebersamaannya, umat muslim secara tak sengaja menunjukkan wibawanya, dalam suasana ukhuwahnya umat muslim telah menunjukkan kehormatan akan jati dirinya.

Syiar Islam pun melebar. Yang jarang ke masjid pun menjadi sering ke masjid di bulan Ramadlan (terlepas dari ikut-ikutan karena malu atau tidak), yang pelit pun menjadi bersedia berbagi demi dilihatnya banyak saudaranya yang bershodaqoh, yang jarang mengaji pun menjadi sering membuka Al-Qurannya untuk ikut tadarus di musholla. Tak hanya orang tua, yang muda pun tampak bersemangat. Semuanya masih awalan memang, meski masih dalam tahap "ikut-ikutan" bukankah itu sebuah pintu menuju kebaikan yang lebih?

Tapi sayang sekali, keindahan tersebut di beberapa tempat hanya berasa sementara. Manis di awal, terasa hambar di sisa. Begitulah, sepuluh hari pertama memang amat terasa, tapi di hari-hari sisanya keindahan itu menjadi hampa sebagaimana hari biasa. Orang-orang yang berjama'ah di masjid untuk sholat tarawih pun semakin maju, maju shofnya. Mungkin benar adanya jika dikatakan bahwa Ramadlan bagaikan sebuah event pertandingan. Di babak penyisihan (10 hari pertama) banyak sekali peminatnya, dan di 20 hari sisanya (semifinal dan final) makin sedikit kontestannya.

Kasihan memang. Penulis sendiri saat melihat kondisi yang demikian menjadi teringat akan sebuah hadist dari Abu Hurairah, yang artinya kurang lebih begini :
“Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah pada hari yang tiada perlindungan kecuali perlindungan-Nya. Mereka adalah pemimpin yang adil, anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang ketika dirayu oleh seorang wanita bangsawan lagi rupawan lalu ia menjawab: “Sungguh aku takut kepada Allah”, seseorang yang mengeluarkan shadaqah lantas di-sembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diperbuat tangan kanannya, dan seseorang yang berzikir kepada Allah di tempat yang sunyi kemudian ia mencucurkan air mata”. (H.R.Bukhary - Muslim).

Hubungannya dengan Ramadlan? Coba kita baca poin "....anak muda yang senantiasa beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, seseorang yang hatinya senantiasa dipertautkan dengan mesjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, yakni keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah ...".

Indahnya syiar Ramadlan yang kita rasakan semuanya bermuara pada satu rumah suci yakni masjid. Jika Ramadlan saja masjid kita cepat sepi, maka syiar Islam pun patut dipertanyakan sebagai konsekwensinya.

Adalah seorang pemuda di sini yang hendaknya lebih berperan aktif menggalakkan syiar ini. Taqorrub ilallah selama Ramadlan (setidaknya) merupakan wujud aplikasi nyatanya. Yang selanjutnya akan membawa hatinya untuk terpaut dengan masjid. Lihatlah, bukankah indahnya nur nuansa syiar bulan suci terpancar terutama dari masjid-masjid? Jika telah demikian, akhirnya jadilah mereka orang-orang yang mencintai karena Allah, berkumpul dan berpisah karena Allah (gambaran : perhatikan betapa "mesranya" mereka yang berduyun jama'ah sholat tarawih, berangkat bersama dan pulang bersama. Menebar indahnya syiar di sepanjang jalan yang dilaluinya).

Menjadi suatu hal yang patut disesalkan jika yang terjadi malah kebalikannya, masjid malah dianggap sebagai sesuatu yang kuno. Lebih "trend" apabila berada di mall-mall, bioskop-bioskop, cafe, club metropolis, dan taman-taman cangkrukan. Innalillah, itulah yang telah menghinggapi benak sebagian pemuda muslim saat ini. Sungguh kaum kuffar telah berhasil memainkan skenarionya untuk mencincang syiar Islam dengan menjauhkan generasi muda muslim dari masjid.

Maka, dengan momentum Ramadlan 1428 ini marilah kita bangkit bersama. Jalin ukhuwah, meriahkan masjid-masjid dan musholla-musholla kita selama bulan suci, hiasi hari kita dengan berbagai amal kebaikan, berlomba dan senantiasa berlomba untuk kebaikan di dalamnya. Sungguh menjadi impian kita bersama, bila indahnya nuansa Ramadlan tak hanya berada di Ramadlan saja. Syiar Islam akan menemukan jati dirinya yang sesungguhnya. Jadi, siapkah kalian, wahai ikhwah, untuk menjadi salah satu pionirnya?

*fyuh, setelah tertuda-tunda kesibukan akhirnya jadi juga artikelnya. Tapi telat, hiks.

By : Labib Fayumi
FTIf - ITS

6.9.07

Waladldlooolliin .... !




Aku duduk terpekur di pinggir serambi musholla. Al-Quran masih kudekap erat. Sesekali kupandang langit yang penuh bintang, sambil lamat-lamat bibir komat-kamit,"Ghoiril maghdluubi 'alaihim waladldlolliiin," apa yang salah? Pikirku. Sudah tiga hari ini kopyah yang bertengger di kepalaku terkena lecutan sabet bambu Abah (panggilan santri ke kyai ku). Kata beliau mahkroj huruf dlot ku masih 'keliru'. Sedih, tiga hari tanpa kemajuan. Padahal ketika aku sorogan (setor bacaan) ke kang Abror (nama samaran), menantu Abah, katanya tak ada masalah, bagus malah. Duh ...!

"Kang Dzakiy, hayooo .. ngelamun apa ...!" sebuah suara membuyarkan lamunanku. Kang Maman, ia meringis tersenyum sambil memegang pundakku dari belakang."Biasa kang ..., lagi nunggu giliran," jawabku beralasan. Betulkan? Giliran untuk mengaji ke kang Abror maksudnya."Sampeyan duluan aja, saya tak akhir-akhir wae," ujarku."Heee ... gitu ... orang nanya ngelamun apa malah diusir ya ya ... Oh ya kang, ntar ba'da isya' ajarin Fisika ya ...," Maman memijit-mijit pundakku keras-keras. Ketika aku berbalik hendak balas memijat, Maman sudah ngacir melarikan diri sambil senyum-senyum.

Aku menghela nafas. Suara santri yang sorogan ke Abah masih nyaring terdengar. Aku hendak membuka mushaf, ketika seraut wajah cantik terlongok dari pintu ndalem (sebutan santri untuk rumah kyai) sebelah musholla. Deg, mbak Rahma , putri kedua Abah. Abah, ketika saya menjadi santri di sana, beliau mempunyai dua orang putra, yakni mas Fudlail dan mbak Rahma. Mas Fudlail lebih tua dua tahun saya dan mbak Rahma 2-3 tahun lebih muda dari saya.

Saat menatap ke arahku, mbak Rahma tersenyum. Aku jadi salah tingkah, malu...!. Dengan bergegas aku masuk ke gedung asrama putra di samping kiri musholla (mushola, ndalem, asrama putra, asrama putri terhubung satu sama lain), dan duduk antri sorogan di barisan belakang.

Kang Abror mengamati pergerakan lisanku. Huruf demi huruf shuroh Al-Fatihah kubaca dengan mantap."Waladldlooolliin," Sesaat ..hmhmh ... kuhembuskan nafasku. Maklum membaca dengan suara keras dan makhroj yang benar-benar shohih, membuatku terengah-engah kelelahan.

Kulirik kang Abror, ia hanya manggut-manggut saja. Tandanya meyilakanku untuk melanjutkan bacaan yang akan ku setorkan. Sampai ayat terkahir, ternyata tak ada yang salah. Betulkah tak ada yang salah? Usai mengaji, kusempatkan mengeluh pada kang Abror kalau Dlot-ku masih salah di hadapan Abah."Tetep nderes mawon kang (tetaplah untuk banyak tilawah, kang)," itu saja yang beliau sarankan. Aku tambah 'manyun', beliau hanya tersenyum.

Isya', kurang lima menit. Aku masih mengulang bacaan Dlot-ku, di mana salahnya? Ku raba, ku rasa setiap jengkal makhrojnya. Ya Allah, berilah ketajaman pada lisanku untuk melafalkan dengan benar kalam-Mu. Tanpa sadar hatiku memanjatkan doa.

"Tong tong tong ... tong," bunyi kentongan tanda isya' ditabuh. Segera, terlihat para petugas keamanan pondok berseliweran 'mengahalau' santri-santri agar segera ke musholla. Santri di sini memang terdiri dari berbagi tingkat pendidikan, ada yang masih SD, SMP, dan SMA. Jika tak ada yang mengingatkan tentu santri-santri ciliknya lebih memilih bersenda gurau dari pada ke musholla. Huh ...repotnya !

"Kang ... kang ... kang Dzakiy, adzan kang," tiba-tiba seorang pengurus terkopoh-kopoh datang sambil meneriakiku. Lho? Masya Allah bukankah malam ini adalah jadwal saya adzan 'isya?."Oh inggih kang, ngapunten kulo supe ...(Iya kang, maaf saya lupa)" ujarku terburu-buru sambil meletakkan Al-Quran kecilku di atas kusen jendela asrama."Piye to kang, saking khusyu' nderes supe jadwal adzan," Aku hanya tersenyum menanggapinya sambil tergesa menuju mushola.

Kulihat ratusan santri sudah membentuk shaf dengan rapi."Allahu akbar .. Allaaahu akbar..,". Bukan suara jawaban adzan yang kudengar."Wah, ini pasti kang Dzakiy ya yang adzan. Bagusnya ...!" terdengar kasak-kusuk dari ruang musholla putri."Nggak penting blass," protesku serta merta. Dalam hati tentunya, namun yang lebih parah ... tampak beberapa akhwat kecil menongolkan wajahnya hendak mau melihatku adzan, mungkin begitu maksudnya. Alamaaaaaak....! Untung pengurus putrinya langsung bertindak.

Setelah sholat isya', para santri belajar pelajaran sekolah umunya. Aku masih malas. Maman yang tadi minta diajarin Fisika pun aku abaikan. Saat kubilang aku sedang nggak mood ia hanya nyengir kuda.

Kutemui kang Sholeh yang sudah bilghoib untuk menyimak Fatihahku, betul katanya. Ganti kang Zaid, betul juga, kang Ihsan, bagus banget begitu malah komentarnya. Ya Allaaaah ....!

Pelajaran yang lumayan malah kudapat dari kang Qosim, keponakan abah sendiri. Katanya begini, begitu (banyak pokoknya) dan aku disuruh mempraktekannya. Sudah bagus, begitu akhirnya komentar kang Qosim."Bagus lagi ... bagus lagi..," batinku.

Keesokan paginya, ba'da shubuh aku antri pertama setoran ke Abah. Mataku masih berat sebenarnya, maklum hampir semalaman memelototi Al-Fatihah ditemani kang Qosim yang juga 'nyambi' belajar.

Dengan tajam Abah mengawasi pergerakan lisanku. Sabet bambunya sudah teracung ke atas kepalaku. Aku menjadi gemetar."Ghoiril maghdluubi 'alaihim waladldlolliiin," kulafalkan dengan seksama tiap hurufnya. Dan ... sabetnya bergerak. Mataku terpejam ..., "Kalau memang salah ya pasrah," pikirku sedih. Satu, dua detik tak kurasakan sabetan bambu Abah di kopyahku. Kubuka mata, ternyata sabet bambu Abah tak berada di atas kepalaku lagi, beliau tak jadi memukul. Malah, beliau sudah mengalihkan perhatian ke santri lain yang juga sorogan (satu kali sorogan Abah menyimak tujuh santri sekaligus).

Mataku berkaca-kaca. Kulirik wajah abah, dan .... mata kami bertemu. Mungkin beliau heran mengapa aku terdiam. Abah mengangguk, mengisyaratkan bahwa bacaanku tadi sudah benar. Dan dengan mata yang hampir menangis kuteruskan bacaan Al-Quranku, meneruskan jatah sorogan yang sudah tiga hari tak bertambah sama sekali. "Ya Allah ... Memang hanya nabi-Mu yang paling fasih dalam melafadzkan huruf Dlot (Sabda Nabi :"Ana afshohu ma naqola bidldlood" (Aku adalah sefasih-fasihnya orang yang mengucapkan huruf Dlot)), maka berikanlah kefasihan dalam lisanku sebagaimana kefasihan yang ada pada nabi-Mu."

Saking seneng dan harunya, lelehan air mataku seperti tak henti mengalir hingga aku sorogan ke kang Abror."Lho kang Dzakiy, kenapa kok nangis, disabet lagi?," kang Abror bertanya keheranan. Dalam tangisku, aku hanya tersenyum."Mboten kang".


* Diambil dari kisah nyata, nama tokoh semua disamarkan

By : Labib Fayumi
FTIf - ITS

9.8.07

Beberapa Album Foto di MTQ (Edisi Special MTQ Mahasiswa X, Habis)








Ternyata Masih Belum Saatnya (Edisi Special MTQ Mahasiswa X)



Terpukul dan kecewa, itulah yang kami rasakan setelah mengetahui bahwa kami masih belum mampu memberikan gelar juara MTQ bagi ITS. Semua apa yang telah kami persiapkan dan usahakan rasanya sia-sia, menguap entah kemana. Betapa tidak? Kami berangkat menuju palagan perlombaan dengan penuh keyakinan bahwa setidaknya dua gelar dapat kami raih. Tapi, ternyata kenyataan masih berkata lain. Pasrah, ya itulah apa yang kami bisa untuk saat ini.

Memang, penampilan ITS pada MTQ kali ini mengalami peningkatan dari pada tahun-tahun sebelumnya. Tapi apa hendak dikata, meski dinyatakan siap, ternyata rival ITS lebih siap dari yang diduga. Dapat dilihat perbandingannya, kontingen MTQ ITS persiapan maksimal hanya satu bulan, sedang perguruan tinggi lain melakukan persiapan ternyata satu tahun, jauh sebelum MTQ digelar.

Dari sisi ini pantaslah jika kita mengalami kekalahan. Belum lagi jumlah peserta MTQ yang dari tahun ke tahun meningkat drastis. Tercatat pada MTQ UNSRI tahun ini ada 107 perguruan tinggi yang berpartisipasi dengan total jumlah 800 peserta.

Meski demikian kans ITS untuk menang masih sangat terbuka lebar untuk tahun-tahun selanjutnya asalkan kurva peningkatan mutu kontingen yang dikirim tetap terjaga. Ya, kami yakin sepenuhnya jika suatu saat ITS pasti mampu menjuarai ajang bergengsi bidang religi ini.

Ada satu pernyataan rekan seperjuangan di UNSRI yang menarik perhatian saya dan tentu patut direnungkan kiranya."Betapa hebatnya ya andaikan ITS bisa menjuarai MTQ, syukur-syukur kalau juara umum. Bukankan itu membuktikan bahwa keseimbangan antara IPTEK dan IMTAQ benar-benar ada di ITS?" Begitulah kata teman saya.

Sebuah harapan yang terkesan polos dan sederhana. Namun, bagi saya perkataan tersebut memiliki arti yang sangat mendalam. Dapat dibayangkan, seperti apa hegemoni ITS di mata perguruan tinggi di Indonesia (baik IAIN, PTN, dan PTS) andaikan mampu menggabungkan dua faktor di atas. Kampus teknologi yang Qurani. Luar biasa bukan?

Itu semua bukan mimpi, sekali lagi bukan mimpi. Entah kapan dan siapa yang akan mampu menorehkannya, tergantung bagaimana regenerasi pengembangan generasi qurani di ITS sendiri.

Dan kiranya untuk itu apa yang telah dinyatakan Pembantu Rektor III ITS patut juga diperhatikan. Bahwasanya perlu dibentuk lembaga khusus yang secara independent melakukan pembinaan yang mengarah ke sana (semacam Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ)).

Sebagai referensi, Universitas Jambi yang merupakan juara umum MTQ tahun ini berani melakukan banyak pengorbanan untuk menang. Pelatih khusus bidang tilawah didatangkan dari luar. Dan tak tanggung-tanggung, ketika MTQ berlagsung pun sang pelatih tetap mendampingi mereka.Tak heran jika qori'-qori'ah mereka (putra-putri) lolos sebagai juara.

Intinya, bercermin dari sang juara, ITS juga harus mengeluarkan banyak pengorbanan jika ingin merebut tahta MTQ, baik tenaga dan biaya. Apalagi mengingat pembinaan pada bidang-bidang tersebut dapat dikatakan masih sangat minim di ITS.

Menjadi suatu hal yang mengharukan manakala rekan-rekan dengan penuh semangat mendorong official kami, kebetulan ia juga adalah dosen agama Islam, untuk segera merealisasikan apa yang telah diutarakan PR III ITS. Bahkan, mereka mengungkapkan untuk siap membantu.

Sebuah tekad yang bulat, itulah apa yang saya tangkap dari kata-kata mereka yang begitu bersemangat. Tentu, sebagai salah satu kontingen yang mencicipi pahitnya gagal di MTQ, kami sepatutnya untuk tak berdiam diri. Setidaknya ada usaha "balas dendam", terlebih sangat bersyukur sekali jika kami sendiri yang membalas "dendam" tersebut.

Mungkin bagi kami, satu-satunya kesempatan adalah tahun 2009 nanti itupun jika masih ada kesempatan. Karena memang rata-rata kontingen MTQ X ITS berasal dari angkatan 2005, kecuali khusus untuk cabang tilawah yang diwakili akhwat 2006.

Tapi, walau memiliki kesempatan yang minim bukan berarti kita tak mempersiapkan diri. Zaenal Arifin (Cabang MKhQ), Biologi 2005, malah berkata pada official,"Pak, kalau tahun 2009 nanti saya masih diperkenankan ikut, Insya Allah saya bisa menang." Arifin yang mengakui bahwa cabang kaligrafi MTQ X memiliki mutu jauh lebih bagus dibandingkan MTQ IX (di Pontianak) nampaknya tak ingin kecolongan kedua kalinya. Padahal mengacu pada hasil kaligrafi MTQ Pontianak, Arifin optimis lolos. Tapi ternyata tidak demikian ketika di UNSRI, lawan-lawan baru yang tangguh banyak bermunculan.

Bagi saya pribadi, kekalahan di UNSRI memang cukup menyakitkan. Maklum, MTQ X UNSRI dapat dikatakan merupakan kemunculan saya pertama sejak beberapa tahun (sekitar 2-3 tahun) vakum dalam kancah per-MTQ-an. Wajar jika saya sangat kecewa karena dalam penampilan perdana tak mengahasilkan apa-apa, ditambah lagi kekalahan yang tak lepas dari kondisi ruang lomba (suara saya anti ruang ber-AC).

Satu hal lagi yang membuat saya dan kawan-kawan kontingen MTQ tertekan, bahwa kami ke sana membawa amanat (baca : mewakili) 19000 civitas akademika ITS, begitu yang diungkapkan PR III ITS. Karenanya, dengan kegagalan ini kami khususnya saya sendiri merasa berdosa sebab belum mampu memberikan yang terbaik bagi civitas akademika.

Oleh karena itu, sekaligus menutup artikel ini, saya sebagai salah satu wakil dari kontingen Musabaqah Tilawatil Quran atas nama rekan-rekan kontingen MTQ Mahasiswa Nasional X memohon maaf karena belum mampu mengemban amanat. Insya Allah di lain kesempatan, ITS (dengan segenap dukungan civitas akademika tentunya) akan mampu mengibarkan benderanya di panggung kemenangan MTQ Mahasiswa Nasional. Pasti ...! AAAmiin ...!

"Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan."" At-Taubah, 105

By : Labib Fayumi
FTIf-ITS

8.8.07

Masjid Agung Palembang (Edisi Special MTQ Mahasiswa X)


Masjid Agung Palembang didirikan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (Jayo Wikramo) pada tanggal 1 Jumadil Akhir 1151 H (1738 M) dan baru dapat diresmikan pada tanggal 28 Jumadil Awal 1161 H atau 26 Mei 1748 akibat sulitnya mendapatkan material bangunan.

Bangunan ini terletak di belakang Benteng Kuto Besak (BKB) dan dulunya di kelilingi oleh sungai Musi, Sekanak, Tengkuruk, dan sungai Kapuran.

Bangunan masjid pertama kali berukuran 30x36 meter. Keempat sisi bangunan ini terdapat empat penampilan yang berfungsi sebagai pintu masuk, kecuali di bagian barat yang merupakan mihrab. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam.

*disadur dari Al-Akhbar, Jurnal MTQ Mahasiswa Nasional X

Qiroah Indah Al-Handawi (Edisi Special MTQ Mahasiswa X)


Suaranya begitu merdu, mendayu melantunkan setiap huruf Al-Quran membuat hadirin yang mendengarnya terlena dalam buaian indahnya ayat yang dibacakannya. Dalam fasihnya, sang qori' seakan mengajak para hadirin untuk berdzikir memuji keagungan-Nya.

Dialah qori' Mesir Hajjaj Ramadlan Al-Handawi. Beliau hadir secara khusus di tengah perhelatan MTQ Mahasiswa Nasional X dan pelantikan pengurus cabang Jam'iyyatul Qurra' Wal Huffadz Palembang dalam rangka persiapan MTQ Pondok Pesantren se-Indonesia.

Bertempat di Masjid Agung Palembang para kontingen MTQ Mahasiswa diberi kesempatan untuk mendengar suara emasnya yang dikemas dalam sesi acara Haflah Akbar tersebut. Sehingga tak aneh bila malam itu , (1/8), suasana di Masjid Agung Sultan Badaruddin nampak sangat ramai. Apalagi dalam Haflah tersebut hadir pula qori'-qori' kelas internasional dari Indonesia. Para peserta MTQ pun tak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, paling tidak sebagai wahana menambah pengetahuan fariasi naghom terbaru.

Diawali dengan penampilan tujuh qori' Indonesia, Haflah Akbar berlangsung seru. Tak jarang hadirin berseru bersama melafalkan lafdzul jalalah karena terpesona akan keindahan lantunan ayat Al-Quran. Di akhir, sebelum Al-Handawi tampil, penampilan qori' kita ditutup dengan trio tilawah yang dibawakan tiga qori'ah Indonesia.

Ketika Al-Handawi mulai membaca ta'awudz, hadirin langsung langsung terdiam. Terlena, ya benar-benar terlena. Hampir selama satu jam Al-Handawi membawakan qiroahnya, dan selama itu pula hadirin yang mendengarkan larut dalam kalam-kalam illahi. Waktu satu jam seakan tak terasa. Cucuran air mata hadirin yang mendengarkan qiroah beliau pun mengalir tak tertahankan. Ya, termasuk saya. Memang, ketika Al-Quran dibaca oleh ahlinya, terasa benar kedasyatan indah tiap lafal kalamnya.

Diceritakan, konon Al-Handawi telah hafal Al-Quran sejak usia 10 tahun. Empat tahun kemudian beliau mengkhatamkan ilmu Al-Quran dan beberapa tahun setelah itu Al-Handawi mejuarai Musabaqah Tilawatil Quran Internasional di Makkah. Umur Al-Handawi hingga saat ia beliau tampil di Masjid Agung Sultan Badaruddin adalah 29 tahun. Sangat muda jika dibandingkan gelarnya sebagai seorang Masyayyikh.

Sebelum tampil di Masjid Agung Palembang, Al-Handawi menempuh perjalanan Mesir-Indonesia selama 17 jam dengan rata-rata satu jamnya 700 kilometer. Dan begitu sampai di Palembang, tanpa istirahat terlebih dulu beliau langsung membawakan tilawah selama satu jam. Jadi dapat dikatakan, suara Al-Handawi yang sempat membuat hadirin menangis adalah suara sisa perjalanan 17 jam. Seperti apa suara beliau jika tak terpengaruh lelahnya perjalanan? Subhanallaah.

By : Labib Fayumi

FTIf-ITS