17.4.07

Rapi Dhoho Penuh Sesak (Puisi)










wajah-wajah berkerut memelas
jidat berkeringat menahan panas
orang di sana
orang di sini
mata menyipit menahan sakit
terhimpit ...
hai pak, hati-hati ...
bukan saja sampai di sini
sumpah serapah pun seperti tak henti

nasi ayam, koran usang, krupuk udang
ke sana ... ke mari ...
penjaja barang seakan tak peduli
juga tidaklah jarang
kaki beradu kaki
sumpah serapah pun seperti tak henti

aduh kawan
ternyata tak hanya segini
antara tua muda
laki, bini, laki, dan wanita
sunggguh kasihan
rasa sopan serasa hilang
ingin diri nyaman sendiri

yah beginilah
nasib jelata dalam belanga
tak mau pandang siapa
jika diri susah lain susah
siapa yang ingin makin payah?
meski peduli pun ikut musnah
buktinya ada di sana
di pojok kereta
pengemis tua tersedak serak
tiada mampu bergerak
menahan bau anyir ketiak
dalam gerbong rongsok Rapi Dhoho
yang penuh sesak

Labib Fayumi
TIf-ITS

16.4.07

Oh Ujian .... Selamat Datang, Selamat Belajar

Akhirnya kita kembali bertemu lagi dengan si dia. Memang telah menjadi kebiasaannya apabila tiap tengah semester atau akhir semester dia selalu bersilaturrahim dengan kita entah barang satu minggu atau bahkan dua minggu. Ya, dialah yang kehadirannya kadang menimbulkan banyak dilema si Ujian Tengah Semester dan Ujian Akhir Semester. Bagi insan akademis tentu kedua nama saudara kembar ini tentu sudah tak asing lagi. Dan saat ini pun di institut kita yang tercinta, ITS, mahasiswa tengah sibuk menyambutn kedatangannya, 16 April kedatangannya yang pertama untuk semester genap tahun ajaran 2007.

But, berbicara tentang UTS kali ini, isu yang penulis dengar ujian kita kali ini bersamaan dengan UAN. Jadi, sekalian saja di sini penulis turut mengucapkan Selamat Menempuh Ujian semoga sukses selalu menyertai kita. Bagi yang di universitas jangan kalah dengan "ade'-ade'" SMA yang berjuang mati-matian memperjuangkan nasibnya. Dan buat "ade'-ade'" yang sedang mengikuti UAN, jangan pesimis untuk tidak menang dari pertarungan. Jangan jadikan universitas tujuan kalian hanya sekedar menjadi impian yang terlewatkan.

Back to kita-kita yang "lagi" UTS, telah saya katakan sebelumnya bahwa adakalanya tamu yang tak diundang ini menjadi dilema. Ya, tengok saja sekitar kita, kampus kita, dan daerah tetangganya. Manakala UTS menjelang, suasana pun berubah menjadi agak sepi. Dapat dipastikan, banyak yang sibuk belajar. Nah dari sini, penulis dapat "wangsit", andaikan semangat belajar kita tiap hari seperti ketika hendak UTS, wah ITS pasti bakalan melesat bidang akademisnya. Lihatlah berapa lima puluh persen ke atas yang menerapkan SKS (Sistem Kebut Semalam), asyik mendalang suntuk bersama lembaran kertas yang biasanya teronggok di pojok meja?Andaikan SKS tersebut menjadi budaya harian, andaikan kampus kita selalu sepi karena mahasiswanya sibuk belajar ...Watch (pengecualian buat yang ini). Andaikan semangat belajar tersebut menjelma menjadi kekuatan di hari-hari kita, pionir terdepan teknologi nampaknya bukan lagi sekedar mimpi tapi suatu kepastian.

Tapi, memang bukan mahasiswa namanya jika tak ada seninya (kata siapa?). Mulai dari pergerakan, organisasi, turun ke jalan, praktikum dengan waktu yang menggebu, tekanan lulus tepat waktu, nilai ujian yang "jeblok", hingga karya-karya mutakhir bagi bangsa, semuanya mahsiswa yang menghiasi. Maklumlah kiranya apabila UTS kali ini pun menjadi momen beristirahat, kembali ke asal haqiqi semula sebagai mahasiswa untuk belajar, demi menjamu sang ujian yang telah datang. Ya ini memang kewajaran.


Ujian, apa pun embel-embelnya Tengah Semester, Akhir, Akhir Nasional atau lainnya memang patut dimuliakan mengingat kedatangannya hanya beberapa bulan sekali. So, jangan sampai "dapet" ejekannya hanya karena pelayanan kita yang kurang memuaskan. Pelayanan apa itu? Belajar Rajin, Menjawab Soal dengan Sungguhm "plus" alangkah baiknya jika tidak dihiasi dengan "Mbacem", "Nyontek", "Ngrepek" dan teman-temannya. Selamat Ujian dan Selamat Belajar. Semangaaaaaaaaaaaaaat ......!

Labib Fayumi
TIf-ITS

14.4.07

ITS, Menapak Babak Baru Bersama Rektor Baru

Tepat pada hari jumat (13/4) pukul 14.00 siang, Prof Ir Priyo Suprobo MS PhD diambil sumpahnya oleh Menteri Pendidikan Nasional untuk menduduki tampuk jabatan tertinggi sebagai rektor ITS. Suksesi kepemimpinan pun secara otomatis bepindah tangan, dari Pak Nuh (Prof Dr Ir Muhammad Nuh DEA) ke tangan Pak Probo. Satu lagi, sebuah sejarah kembali ternoktah dalam catatan perjalanan sang kampus perjuangan, ITS.

Pergantian pimpinan merupakan hal yang wajar dalam sebuah institusi keorganisasian. Malah, dari sanalah modal penentu bagaimana institusi tersebut terus berproses menuju kedewasaannya, hingga saatnya ia mencapai visi dan misi yang telah dicita-citakan.

Begitu pula dengan ITS, dengan telah disahkannya rektor baru maka sudah barang tentu kemajuan, kampus berkualitas, serta gelar pioneer teknologi terdepan semakin dekat diambang mata. Tidaklah mudah memang. Tapi paling tidak, semangat untuk melejit ke arah sana ter-upgrade dengan hadirnya sosok pemimpin baru di tengah-tengah kita. Ya, semoga era baru ini membawa semangat baru pula bagi kita, civitas akademika, untuk terus berkarya bagi bangsa.

Dukungan penuh serta sumbangsih dari segenap elemen kampus adalah faktor utama kesuksesan program ke depan. Terlepas dari bagaimana model 'pemerintahan' yang akan diterapkan oleh punggawa kampus, kita sebagai bagian kecil dari elemen tersebut hendaknya lebih berbenah diri, bersiap untuk mengawal serta menyukseskan kineja mereka. Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tutwuri Handayani mungkin itulah 'unen-unen' yang tepat untuk menggambar wujud 'simbiosis' tersebut.

"....yang kukehendaki manusia Indonesia sekarang ini, hendaknya menjalankan perjuangan, bukan saja perjuangan melawan manusia, sebagai dalam integral revolution antara 1945 sampai 1950, ... Bukan pun hendaknya manusia yang bertempur melawan isme, isme yang jahat,... Tetapi, manusia Indonesia hendaknya menjadi manusia yang ... memberi bantuan sebanyak-banyaknya kepada manusia."

Cuplikan kalimat di atas merupakan potongan pidato presiden Soekarno ketika meresmikan Perguruan Teknik 10 Nopember Surabaya (nama ITS tempo dulu) pada tanggal 10 Nopember 1957. Hubungannya dengan rektor baru?

Tentu kita tidak ingin harapan yang telah terucap dari bapak presiden pertama Indonesia ini menjadi mutiara penghias yang menjadi potongan maze sejarah ITS. Betapa pun, perjuangan kita, apa pun itu, gerak langkah kita, kedipan mata kita, dan tarikan napas kita, semuanya menjadi penentu masa depan ITS serta masyarakat Indonesia di kemudian hari. Semoga para pemimpin kita khususnya rektor ITS yang baru diberi kekuatan oleh Yang Kuasa sehingga mampu membawa ITS menjadi kampus yang membawa kemashlahatan bagi umat sebagaimana yang diimpikan oleh Bung Karno. Amiiin. Vivat ITS ...!


Labib Fayumi
Teknik Informatika ITS

Dalam Sepiku (Puisi)









Mataku terpejam membayang
Silau akan nikmat keagungan-Mu
hatiku sujud diam membisu
menghadap 'tuk memohon ke hadlirat-Mu
aku tak berani ...
sungguh tak berani ...
tak berani mendongak sang mustaka
meski hanya 'tuk melirik saja
sungguh aku tak mampu

Selimut sunyi masih menemaniku
dalam gelapnya
aku henyak tercekat
tak terasa
dalam ketakutanku
dalam tundukku
dalam dzikir bisuku
mataku senggak terisak
meluapkan sesak yang mendesak
terengah aku bertanya
Ya Rabbu ...
di hadapan-Mu, siapakah aku?
bening socaku makin membludak
senggukku pun menggelegak
aku merasa hina
aku merasa nista
hina dina, nista nestapa

merana, merana ...
oh dunia, dunia
wahai malam yang kelam
wahai semua hewan melata
wahai para malakut
dengarkah kalian derau tangisku?
jawablah, jawablah
hatiku pilu
membeban bergunung-gunung penyesalan
dalam sepiku
ku seakan tertodong pedang
dalam sunyiku
ku merengek mohon ampunan
Rabbi.. ya rabbi ...
nur sucimu, nur ridlomu
kan selalu ku rindu
izinkanlah wadat hina ini
biarkanlah nafsu ini
berselendang mesra
berselempang suka
bercinta ...
dalam buaian rahmat-Mu

Labib Fayumi
Teknik Informatika ITS

13.4.07

Hidup adalah Pilihan, Spekulasi?

Seringkali ketika kita melihat kesempatan yang tampak menguntungkan bagi kita, maka kita akan segera mengambil kesempatan tersebut. Apapun itu bentuknya. Apalagi ketika status seseorang sedang dalam fase menuju klimaksnya. Tapi, dari sekian banyak "profit resource" yang ada apakah kita akan mengambil semuanya?Apakah pilihan kita betul-betul memberikan "profit"?Apa patokannya?

Dalam kenyataan yang ada, apa yang terlihat baik belum tentu memberikan kebaikan pula, setidaknya bagi sisi yang lain. Contoh kecil, seorang mahasiswa yang cenderung bernafsu ingin memiliki pengalaman sebanyak-banyaknya. Himpunan, LDK (Lembaga Dakwah Kampus) ia ikuti, belum lagi kegiatan yang bersifat privacy. Maka manakala ia menapak ke posisi yang semakin penting, peluang untuk berfokus pada satu habitat aksi akan semakin besar dan konflik pun akhirnya akan muncul.

Di sinilah dibutuhkan pentingnya sikap profesional dan kedewasaan kita. Mamang pada dasarnya, semua hal posistif memiliki kebaikan.Tapi apakah kita akan mempertaruhkan satu intan hanya untuk mengejar intan lain yang nampak lebih indah yang kita belum tentu mampu medapatkannya. Atau malah kita ingin memiliki semuanya. Optimis boleh, terlalu optimis pun akhirnya bisa masuk jurang.

Kita bisa saja menggunakan metode gambling untuk memecahkan soal tersebut, atau spekulasi pun juga boleh. Namun untuk diketahui, ini bukanlah pertaruhan biasa. Butuh straregi tempur sejak awal. Apa itu?Nah di sinilah pentingnya kartu The Map Of Life (peta hidup-red). Tapi bagaimana jika kita telah terjebak di tengah petempuran?Buat segera peta anda dan semuanya akan terpampang jelas, kira-kira tindakan seperti apa yang akan ambil.

Akhirnya, kita akan bernafas lega karena telah berjalan sesuai arah menuju target yang telah tertera di atas peta. Meski dengan mengobarkan perang internal sekalipun. Kita mungkin saja dituduh berkhianat, tak bertanggung jawab, tak memiliki komitmen, lari dari perang, or so on. But jika kita memberikan alasan secara baik-baik, toh akhirnya pasti akan dimaklumi. So, jangan terlalu rakus akan peran dan jika memang sudah kepalang, segela lakukan perbaikan. Remember our map of life.

Labib Fayumi
TIf-ITS

11.4.07

Genderang MTQ Mahasiswa Nasional X Bertalu

Sebentar lagi lantunan ayat-ayat suci Al-Quran akan menggema di rantah pagelaran MTQ Nasioanal ke-10 yang akan diselenggarakan di Kampus Universitas Sriwijaya 7-14 Juli mendatang. Persiapan-persiapan matang pun dilakukan oleh para calon kafilah, para duta kampus madani untuk menyambut acara akbar ini. Tak tanggung-tanggung mulai dari cabang yang paling mudah yakni tartilil quran hingga yang paling sulit sekalipun, Musabaqah Hifdzil Quran, semuanya akan memberikan suguhan istimewanya masing-masing. Dan nampaknya cabang Tilawatil Quran yang merupakan inti MTQ ini, juga tak akan ketinggalan menjadi sumber mata air lahirnya variasi-variasi taghonni dari qori-qori muda kita.

MTQ yang merupakan perhelatan besar bidang ulumul quran telah melahirkan bibit unggul serta qori kenamaan baik tingkat nasional maupun internasional. MTQ sendiri hingga saat ini telah memiliki oraganisasi struktural yang teratur. Sehingga tak heran jika kita pernah mendengar istilah LPTQ propinsi dan LPTQ daerah. Tak hanya itu, dengan semakin berkembangnya dan bertambahnya ahli qoriah, akhirnya muncul pula jamaah pecinta Al-Quran yang terkenal dengan namanya Jam'iyyatul Qurro' Wal Huffadz, sebuah lajnah di bawah naungan Nahdlotul Ulama yang menghimpun para ulama-ulama Al-Quran di Indonesia.

MTQ mahasiswa sendiri dapat dikatakan merupakan salah satu upaya untuk menanamkan kecintaan Al-Quran serta apa yang berhubungan dengannya di kalangan para akademisi. Meski dikemas dalam bentuk perlombaan, tak berarti niat utama dari MTQ ini adalah mendapatkan hadiah, pulang, dan memperoleh ketenaran. Akan tetapi pembudayaan nur Al-Quran di tengah-tengah masyarakat adalah prioritas utamanya.

Sebagaimana MTQ umum yang biasa diselenggarakan tiap tahunnya, pada MTQ mahasiswa kali ini ada beberapa cabang yang dilombakan. Yakni
1. Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), seni baca Al-Quran dengan tujuh lagu pilihan. Biasanya minimal lima lagu wajib.
2. Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ), ada beberapa cabang pula, seperti MHQ 5 juz tilawah, 10 juz, dan 30 juz. Namun untuk MTQ mahasiswa terdapat pula 1 juz tilawah.
3. Musabaqah Tartilil Quran, biasanya hanya untuk tingkat anak-anak pada MTQ umum.
4. Musabaqah Fahmil Quran, pemahaman kandungan Al-Quran, beregu (3 orang)
5. Musabaqah Syarhil Quran, keterampilan menyampaikan isi kandungan Al-Quran. Beregu, ada tiga orang tiap regunya. Satu sebagai penceramah, satu sebagai qori, dan satu orang lagi sebagai sari tilawahnya. Musabaqah yang satu ini lebih menonjolkan pada keserasian dalam membawakan kandungan AL-Quran oleh anggota regunya.
6. Musabaqah Khattil Quran, menulis indah ayat-ayat Al-Quran dengan khat-khat pilihan seperti Diwani, Diwani Jali, Riq'ah, Tsulus, Khoufi, dan lainnya.

MTQ mahasiswa merupakan ajang bertemunya para pecinta Al-Quran pilihan. Sungguh indah jika setiap saat, setiap sudut ruang, bahkan setiap langkah atau pun kedip mata kita, lantunan ayat suci senantiasa terdengar. Insya Allah rahmat Allah akan senantiasa tercurah bagi para muhibbul quran.

Dan dengan mengucap basmalah mari kita sambut Musabaqah Tilawatil Quran Mahasiswa Tingkat Nasional Ke-10 dengan rasa suka cita dan iringan doa semoga barakahnya turut menghias jiwa-jiwa para fata-fata di nusantara serta menjadikan turunnya Rahmat bagi bangsa tercinta ini, Indonesia. Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghofuur. Amiiin.

Labib Fayumi
Teknik Informatika ITS

10.4.07

Shubuh (Puisi)








dingin, senyap menyergap
menyambut kejap mata kantukku
aku menggeliat malas
memeras erat bantal empukku
huaah ...
kuap datang
membuat awak malas tinggalkan buaian
tapi ...
ku akhirnya jadi berdiri
meski setengah mata memicing sunyi
tik ... tik... tik ... tik ...
terdengar rintik bersenandung riuh
menyapa kala saat shubuh
aduh ...
batinku kembali mengeluh
menyalahkan masa yang tiada rasa
menggoda insan tuk lelap terlena

tapi ...
ku akhirnya jadi menarik kaki
meski dengan sempoyongan memang
bertengadahkan bening air pancuran

Assholaatu khoirum minannauum
akhirnya senyumku pun terkulum
memenuhi panggilan dengan hati mafhum
walau tanpa pedang ...
walau tanpa tebasan ...
walau tanpa pasukan ...
aku baru saja berperang bukan?
dan ...
aku menang ..............!

By : Labib Fayumi Tif-ITS